Gresik, locusjatim.com – Upaya memperkuat fondasi pembangunan berbasis data mulai digencarkan Pemerintah Kabupaten Gresik. Tiga desa di Kecamatan Manyar dipilih sebagai percontohan dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) tahun 2026, sebagai langkah strategis membenahi tata kelola data dari level paling bawah.
Desa Manyarejo, Manyar Sidomukti, dan Manyar Sidorukun resmi dicanangkan sebagai desa sasaran dalam agenda yang digelar di ruang rapat Putri Cempo, Kantor Bupati Gresik. Pencanangan dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif bersama Kepala BPS Gresik Indriya Purwaningsih, sekaligus ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama.
Berbeda dari sekadar program administratif, Desa Cantik diarahkan menjadi tulang punggung perencanaan pembangunan desa berbasis data yang valid dan terintegrasi. Pemerintah menilai, persoalan mendasar seperti kemiskinan dan pengangguran tak bisa ditangani tanpa basis data yang kuat.
“Ketersediaan data yang akurat dan berkualitas menjadi kunci utama dalam merumuskan arah kebijakan pembangunan daerah. Terutama penguatan tata kelola data DTSEN, serta pengentasan angka kemiskinan dan pengangguran,” ujar Wabup Asluchul Alif.
Ia menekankan, perubahan paradigma dalam memandang data menjadi hal krusial di era digital. Data tidak lagi sekadar angka, melainkan pijakan utama dalam seluruh tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi.
“Di era digital saat ini, data bukan lagi hanya sekadar angka. Tetapi menjadi landasan utama dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembangunan,” ucapnya.
Menurutnya, program Desa Cantik juga menjadi jawaban atas berbagai tantangan pengelolaan data di daerah yang selama ini belum optimal dan belum sepenuhnya terintegrasi. Dengan pembenahan tersebut, pemerintah berharap mampu menekan kesenjangan antarwilayah.
“Dengan data yang baik, kita tidak hanya menyusun program yang tepat sasaran. Tetapi juga mampu mengurangi kesenjangan antarwilayah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BPS Gresik Indriya Purwaningsih mengungkapkan bahwa program Desa Cantik telah berjalan sejak 2022 dan menunjukkan capaian positif di tingkat nasional. Ia menyebut, Desa Gumeng pernah masuk tujuh besar nasional, sedangkan Desa Leran menembus empat besar pada 2025.
“Untuk tahun ini kami memilih 3 desa, yakni Desa Manyarsidorukun, Desa Manyarejo, dan Desa Manyarsidomukti. Sesuai ketentuan BPS RI kami harus menangkap kebutuhan stakeholder. Maka kami wujudkan melalui kolaborasi, baik bersama perguruan tinggi, kawasan industri JIIPE, maupun instansi pemerintah,” terangnya.
Ke depan, BPS Gresik akan memperkuat sinergi lintas sektor guna mendorong percepatan digitalisasi data desa, termasuk melalui pendampingan teknis yang melibatkan perguruan tinggi dan perangkat daerah terkait.
“Kami ingin selalu bisa hadir di pemerintah daerah. Salah satu peran BPS sebagai tindak lanjut dalam rangka pembinaan akan kami lakukan secara intens bersama-sama UMG maupun Dinas Tenaga Kerja. Baik mengenai cara pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data statistik yang akurat,” pungkasnya. (*)






