Sumenep, locusjatim.com — Rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sumenep belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Proyek yang ditujukan untuk menyediakan pendidikan gratis berbasis asrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu itu tertunda setelah muncul persoalan pada lahan yang disiapkan.
Pemerintah daerah sebelumnya telah menetapkan Desa Patean, Kecamatan Batuan, sebagai lokasi pembangunan. Area seluas kurang lebih 10 hektare itu diproyeksikan menjadi pusat pendidikan terpadu dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Namun, hasil peninjauan menunjukkan lahan tersebut masuk dalam kawasan Lahan Sawah Dilindungi (LSD), sehingga tidak bisa langsung dialihfungsikan.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Sumenep, Abd Rahman Riadi, mengatakan bahwa rencana pembangunan tetap masuk dalam agenda pemerintah dan ditargetkan mulai dikerjakan pada 2026.
“Untuk pembangunannya direncanakan bakal dilakukan pada 2026. Lokasinya sudah jelas di Desa Patean, Batuan, seluas 10 hektare,” katanya.
Meski demikian, status lahan menjadi kendala utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Pemerintah daerah saat ini masih berupaya mencari jalan keluar dengan berkoordinasi bersama instansi terkait di tingkat pusat.
“Makanya sekarang kami masih berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) serta jajaran lainnya untuk mencari solusinya. Karena aturannya lahan sawah dilindungi tidak boleh sembarangan dibangun,” jelasnya Rahman.
Di tengah situasi tersebut, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar Sekolah Rakyat tetap berjalan meski belum memiliki gedung sendiri. Untuk sementara, proses pembelajaran dilakukan di gedung Sarana Kegiatan Diklat (SKD) di Kecamatan Batuan.
Program Sekolah Rakyat ini dirancang sebagai fasilitas pendidikan gratis dengan sistem asrama bagi anak-anak yang terdata dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Seluruh kebutuhan siswa, mulai dari tempat tinggal hingga perlengkapan belajar, ditanggung oleh negara.
“Penggunaan SKD Batuan hanya bersifat sementara. Seluruh siswa akan dipindahkan ke gedung dan asrama permanen di Desa Patean setelah pembangunan selesai,” pungkasnya.






