Sumenep,locusjatim.com – Keraton dan Pendopo Sumenep biasanya lekat dengan sejarah dan kebudayaan. Namun, dalam Pameran Pembangunan Madura Night Vaganza (MNV) 2026, keduanya tampil dengan pesan yang lebih jauh: menjadi simbol bagaimana Kabupaten Sumenep merancang masa depannya.
Konsep tersebut dihadirkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sumenep melalui desain stand yang mengusung ornamen Keraton dan Pendopo Sumenep di GOR A. Yani Pangligur.
Bagi Bappeda, pemilihan kedua simbol tersebut bukan sekadar mempercantik tampilan stand. Keraton merepresentasikan identitas, sejarah dan tata nilai masyarakat Sumenep, sedangkan Pendopo dimaknai sebagai ruang terbuka untuk berkumpul, bermusyawarah, menyerap aspirasi hingga membangun kesepakatan.
Kepala Bappeda Sumenep Dr. Ir. Arif Firmanto mengatakan, filosofi tersebut sengaja diterjemahkan ke dalam konsep stand untuk menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan dari karakter masyarakat dan akar budayanya.
“Pembangunan tidak cukup hanya berbicara tentang target dan capaian. Di dalamnya ada nilai, ada aspirasi masyarakat, dan ada karakter daerah yang harus menjadi pijakan dalam menentukan arah pembangunan,” kata Arif.
Menurutnya, Pendopo memiliki filosofi yang selaras dengan tugas Bappeda. Sebagai ruang terbuka, Pendopo menggambarkan pentingnya komunikasi dan musyawarah dalam merumuskan pembangunan yang partisipatif.
“Pendopo kami maknai sebagai ruang bersama, tempat gagasan dan aspirasi dipertemukan. Semangat itulah yang juga ingin kami hadirkan dalam proses perencanaan pembangunan, agar kebijakan yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Sementara nuansa Keraton menggambarkan keteraturan, kepemimpinan dan kesinambungan sejarah. Nilai tersebut diterjemahkan Bappeda dalam upaya menata pembangunan agar memiliki arah yang jelas, terukur, selaras antarsektor dan berkelanjutan.
Konsep itu kemudian dipadukan dengan berbagai informasi pembangunan yang ditampilkan di dalam stand. Mulai dari arah kebijakan, program unggulan, capaian indikator pembangunan, hingga inovasi perencanaan dan tata kelola pemerintahan.
Bappeda ingin menjadikan stand tersebut sebagai gambaran sederhana mengenai hubungan antara masa lalu, kondisi hari ini dan masa depan daerah. Budaya menjadi pijakan, sementara data, aspirasi dan kebijakan menjadi instrumen untuk menentukan arah pembangunan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa merancang masa depan Sumenep harus tetap berpijak pada akar budaya dan potensi daerah. Jadi, budaya bukan hanya menjadi ornamen, tetapi menjadi bagian dari cara kita melihat dan membangun daerah,” jelas Arif.
Konsep tersebut sekaligus menempatkan Bappeda sebagai “rumah perencanaan pembangunan daerah”, tempat berbagai gagasan, aspirasi, data dan arah kebijakan dipertemukan sebelum diterjemahkan menjadi program pembangunan.
Arif menegaskan, perencanaan pembangunan pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, setiap proses perencanaan perlu dibangun secara terpadu, partisipatif dan berorientasi pada hasil.
“Keraton adalah simbol jati diri, Pendopo menjadi ruang musyawarah, sedangkan Bappeda adalah rumah perencanaan. Dari sana kita berpijak pada budaya, menata pembangunan, dan bersama-sama merancang masa depan Sumenep,” pungkasnya.(*)






