Berita

Suasana Jelang Karnaval Berubah Duka, Anak 7 Tahun Temukan Ayahnya Meninggal di Kamar

168
×

Suasana Jelang Karnaval Berubah Duka, Anak 7 Tahun Temukan Ayahnya Meninggal di Kamar

Sebarkan artikel ini
Suasana Jelang Karnaval Berubah Duka, Anak 7 Tahun Temukan Ayahnya Meninggal di Kamar
Rumah duka di jember . Foto: Istimewa

Jember, locusjatim.com Kemeriahan yang seharusnya menyambut karnaval di Desa Sukorambi, Kecamatan Sukorambi, Jember, Jawa Timur, berubah menjadi suasana duka. Seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun menjadi orang pertama yang mengetahui ayahnya, H (34), ditemukan meninggal dunia di dalam kamar rumahnya, Minggu (30/8/2026) sore.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 15.30 WIB di Dusun Krajan. Saat itu, H berada seorang diri di dalam kamar dengan pintu terkunci dari dalam.

Kapolsek Sukorambi AKP Sudarsono mengatakan, anak korban awalnya melihat ke arah jendela kamar. Dari sana, anak tersebut mengetahui kondisi ayahnya dan kemudian berteriak meminta pertolongan.

“Anak perempuannya mengetahui almarhum berada di kamar sendirian dan pintunya terkunci dari dalam. Anak itu kemudian berteriak memanggil pamannya dan warga sekitar,” ujar Sudarsono saat dikonfirmasi wartawan di lokasi kejadian.

Teriakan anak korban membuat keluarga dan warga sekitar berdatangan. Mereka kemudian berusaha memastikan kondisi H dari bagian dinding rumah.

Setelah mengetahui kondisi korban, warga mendobrak pintu kamar yang terkunci. Korban kemudian dievakuasi dari kamar dan keluarga menghubungi kepolisian.

Petugas yang tiba di lokasi melakukan pemeriksaan awal terhadap korban dan tempat kejadian. Polisi tidak menemukan tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh korban.

Berdasarkan pemeriksaan awal, korban diduga meninggal akibat bunuh diri. Namun, polisi belum menyimpulkan motif di balik peristiwa tersebut.

Tetangga korban, YL (50), mengatakan H tidak menunjukkan perilaku yang mencurigakan sebelum ditemukan meninggal. Bahkan pada Minggu pagi, korban masih sempat berinteraksi dengan warga.

“Paginnya masih biasa saja, masih ngobrol dan pesan air galon. Tidak ada yang melihat ada tanda-tanda aneh,” ujar YL.

H diketahui bekerja sebagai pekerja bangunan. Ia sebelumnya sempat merantau sebelum kembali ke Jember dan tinggal bersama keluarganya. Di lingkungan sekitar, korban dikenal sebagai sosok yang cenderung tertutup, tetapi tetap bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarganya.

Korban diketahui memiliki seorang istri dan dua anak yang masih kecil. Saat kejadian, istri korban sedang berada di luar rumah dan disebut tengah bersiap menyaksikan karnaval desa.

Sejumlah warga menyebut hubungan rumah tangga korban dan istrinya belakangan mengalami persoalan. Namun, informasi tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab kematian korban.

“Korban memang sehat-sehat dan masih bekerja, pekerjaannya serabutan atau freelance,” kata Sudarsono.

Polisi sempat menyarankan keluarga agar dilakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematian. Namun, keluarga menolak dan membuat surat pernyataan penolakan autopsi bermaterai.

Peristiwa tersebut membuat suasana Desa Sukorambi yang sebelumnya dipenuhi persiapan menyambut karnaval mendadak berubah. Warga yang hendak menikmati kemeriahan acara desa justru berkumpul di sekitar rumah H setelah mendengar kabar duka tersebut

“Setelah proses pemeriksaan awal selesai, jenazah korban kami serahkan kepada keluarga untuk dimakamkan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *