Jember, locusjatim.com – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jember menggelar kegiatan bersama masyarakat dan komunitas ojek online (ojol), Minggu (30/8/2026). Kegiatan tersebut, digelar di kantor barunya yang terletak di Jalan Hayam Wuruk No 127, Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember.
Dalam kegiatan tersebut, PSI Jember membagikan paket sembako kepada sekitar 200 pengemudi ojol. Selain sebagai bentuk kepedulian, kegiatan itu juga menjadi momentum bagi PSI untuk menyerap langsung aspirasi dan keluhan para pengemudi ojol.
Ketua DPD PSI Jember, Fera Eka Aulina, mengatakan keberadaan ojol saat ini sangat membantu masyarakat dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
“Hari ini kita bagi-bagi sembako kepada ratusan teman ojol di Jember. Kita ingin dekat dengan ojol, ingin dekat dengan masyarakat,” ujar Fera.
Menurutnya, para pengemudi ojol memiliki tingkat aktivitas yang tinggi dan banyak membantu masyarakat, mulai dari mengantarkan barang hingga menjemput anak sekolah.
“Kita sangat terbantu, misalnya ambil barang, jemput anak sekolah. Kita berterima kasih sekali kepada teman-teman ojol, sangat bermanfaat untuk kami terutama ibu-ibu. Kalau tidak ada teman-teman ojol, kita sangat kerepotan sekali,” katanya.
Fera menegaskan, PSI Jember tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membuka ruang bagi para pengemudi ojol untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
“Kita juga serap aspirasi dari teman-teman ojol, apa keluhannya. Sudah saya sampaikan juga dan kami siap bantu,” tegasnya.
Salah satu aspirasi yang disampaikan berkaitan dengan besaran potongan dari aplikasi. Pengemudi ojol berharap ada kebijakan yang dapat meringankan beban mereka, mengingat biaya bahan bakar hingga perawatan kendaraan harus ditanggung sendiri.
“Untuk kesesuaian ongkos buat para ojol itu, kita berharap potongan dari aplikasi diturunkan. Soalnya kita juga bensin atau lainnya bayar sendiri. Jadi kalau ada kebijakan dari PSI atau apa untuk membantu para ojol ini, sangat membantu,” ujar salah satu pengemudi ojol Fera Kurniawati.
Menurutnya, pengemudi ojol tidak hanya membutuhkan pekerjaan, tetapi juga penghasilan yang sepadan dengan biaya operasional yang harus mereka keluarkan setiap hari.
“Supaya ojol itu tidak cuma kerja bakti. Kita kan juga bekerja sendiri. Bahan bakar dan perawatan sepeda itu kita lakukan sendiri. Jadi potongan dari aplikasi itu bisa turun,” katanya.
Ia menyebut besaran potongan aplikasi yang saat ini dirasakan masih cukup membebani pengemudi. Terlebih, terdapat layanan dengan tarif hemat yang membuat pendapatan pengemudi semakin terbatas.
“Kalau tidak salah potongan dari aplikasi itu masih 8 persen dan itu masih berat buat kita para ojol. Apalagi sekarang ada ongkosan hemat dan reguler. Ongkosan hemat yang masuk ke kita itu cuma Rp8 ribu, sedangkan customer bisa bayar Rp12 ribu sampai Rp13 ribu. Yang masuk ke kita cuma Rp8 ribu kalau tidak salah,” ungkapnya.
Karena itu, para pengemudi berharap adanya penyesuaian tarif maupun skema pembagian hasil agar pendapatan yang diterima lebih sepadan dengan biaya operasional.
“Kalau keinginan ya setidaknya yang sepadan sama kita para ojol,” ujarnya.
Ia juga menyinggung aksi penyampaian aspirasi yang sebelumnya pernah dilakukan para pengemudi ojol terkait persoalan potongan dan tarif. Menurutnya, persoalan tersebut masih menjadi perhatian para pengemudi.
“Kemarin itu kan pernah sempat kita, para rekan-rekan ojol itu ada demo. Kalau tidak salah 8 persen atau berapa itu masih belum ter-ACC,” katanya.
Para pengemudi berharap ke depan terdapat kebijakan yang dapat mengurangi beban potongan sehingga penghasilan yang diterima lebih layak.
“Untuk ke depannya semoga para ojol ini bisa ter-ACC buat ongkosan yang tidak terlalu potongan banyak,” harapnya.
Selain persoalan potongan, pengemudi juga berharap perusahaan aplikasi seperti Grab dan Gojek kembali menghadirkan program voucher bagi pelanggan. Menurutnya, keberadaan voucher turut memengaruhi jumlah pesanan yang diterima pengemudi.
“Untuk kantor Grab atau Gojek, supaya mengandung voucher-voucher lagi, supaya pendapatan kita normal, kembali seperti semula. Soalnya customer kita kan mencari voucher-voucher seperti itu,” katanya.
Ia mengungkapkan, kondisi pendapatan pengemudi ojol saat ini mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Jika sebelumnya penghasilan kotor dalam sehari dapat mencapai sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu, kini pendapatan yang diperoleh disebut hanya sekitar Rp100 ribu per hari.
“Dulu kalau masih normal itu kita kotor bisa Rp250 ribu sampai Rp200 ribu per hari. Untuk sekarang ini paling Rp100 ribu per harinya,” ungkapnya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Fera Eka Aulina mengatakan PSI Jember siap membantu menyuarakan persoalan yang dihadapi komunitas ojol, termasuk terkait ongkos dan pembagian hasil dengan pihak aplikasi.
“Kami juga akan bantu terkait dengan ongkos ojol ini, untuk menaikkan mungkin pembagian hasilnya dengan vendornya,” kata Fera.
Selain persoalan ojol, Fera menyebut kantor baru DPD PSI Jember nantinya terbuka bagi masyarakat. Ia menyebut kantor tersebut sebagai rumah bersama yang dapat menjadi tempat masyarakat menyampaikan aspirasi.
“Ini rumah bersama kita. Jadi siapapun masyarakat Jember bisa di sini setiap saat,” ujarnya.
PSI Jember juga berencana menggelar kegiatan Jumat Berkah secara rutin setiap Jumat dengan melibatkan berbagai komunitas secara bergantian.
“InsyaAllah ke depan di kantor ini juga kami adakan Jumat Berkah setiap hari Jumat. Kita undang nanti beberapa komunitas, bergantian nanti biar bisa dirasakan semua masyarakat,” pungkasnya.






