Sumenep, locusjatim.com – Ancaman kekeringan pada musim kemarau 2026 tidak hanya membayangi wilayah daratan, tetapi juga kawasan kepulauan di Kabupaten Sumenep. Mengantisipasi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep telah memetakan 76 desa di 19 kecamatan yang masuk kategori rawan kekeringan.
Pemetaan itu menjadi dasar pemerintah daerah dalam menyusun langkah penanganan, mulai dari distribusi air bersih hingga program mitigasi jangka panjang di wilayah yang selama ini kerap mengalami krisis air.
Data tersebut mengacu pada Keputusan Bupati Sumenep Nomor 100.3.3.2/185/KEP/013/2026 tentang Penetapan Lokasi Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan Tahun 2026. Dalam pemetaan itu, desa-desa dikelompokkan ke dalam kategori kering kritis, kering langka, kering langka terbatas, hingga kering langka kritis sesuai tingkat kerawanannya.
Sebaran wilayah rawan tidak hanya berada di daratan Sumenep seperti Kecamatan Manding, Pasongsongan, Rubaru, Pragaan, Ganding, Guluk-Guluk, Ambunten, Batang-Batang, Batuputih, Saronggi, dan lainnya. Ancaman serupa juga melanda wilayah kepulauan, di antaranya Kecamatan Arjasa, Kangayan, Gayam, Raas, Giligenting, Talango, Masalembu, Nonggunong, hingga Sapeken.
Sekretaris BPBD Kabupaten Sumenep, Abd. Kadir, mengatakan desa-desa yang masuk kategori kering kritis akan menjadi prioritas utama dalam penyaluran bantuan air bersih. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, wilayah tersebut mulai mengalami kesulitan air sekitar satu bulan setelah musim kemarau berlangsung.
“Sudah ada pemetaan. Biasanya setelah satu bulan musim kemarau, daerah-daerah yang kering kritis mulai membutuhkan suplai air bersih. Itu memang menjadi prioritas yang perlu kita suplai di awal,” kata Abd. Kadir, Kamis (2/7/2026).
Selain menjadi acuan distribusi air bersih, hasil pemetaan tersebut juga dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan program pengurangan risiko bencana. BPBD bersama organisasi perangkat daerah terkait, termasuk Dinas PUTR dan Kodim, terus memperluas program pengeboran sumur di sejumlah wilayah yang berulang kali terdampak kekeringan.
Menurut Abd. Kadir, upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Beberapa desa yang sebelumnya berstatus kering kritis kini mengalami penurunan tingkat kerawanan setelah memiliki sumber air baru, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap bantuan air bersih berangsur berkurang.
“Ada beberapa daerah yang awalnya kering kritis, sekarang sudah menjadi kering langka dengan bantuan pengeboran yang dilakukan pemerintah, termasuk bersama Kodim. Upaya ini terus kami lakukan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap suplai air bersih dari pemerintah,” pungkasnya.






