Kesehatan

Hari Bidan Nasional 2026, Dinkes Sumenep Dorong Bidan Adaptif Hadapi Tantangan Kesehatan Era Digital

913
×

Hari Bidan Nasional 2026, Dinkes Sumenep Dorong Bidan Adaptif Hadapi Tantangan Kesehatan Era Digital

Sebarkan artikel ini
Hari Bidan Nasional 2026, Dinkes Sumenep Dorong Bidan Adaptif Hadapi Tantangan Kesehatan Era Digital
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasah. Foto: Istimewa

Sumenep, locusjatim.com Perkembangan teknologi yang semakin pesat menuntut tenaga kesehatan untuk terus beradaptasi, termasuk para bidan yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak di masyarakat.

Momentum Hari Bidan Nasional 2026 dimanfaatkan Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep untuk mendorong peningkatan kapasitas bidan agar mampu menjawab tantangan zaman.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep, drg. Ellya Fardasah, menilai transformasi digital telah mengubah pola penyebaran informasi kesehatan. Karena itu, bidan tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman praktik, tetapi juga harus terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya agar dapat memberikan edukasi yang lebih efektif kepada masyarakat.

“Terus update ilmu dan keterampilan. Era digital menuntut bidan melek teknologi untuk memberikan edukasi kesehatan ibu dan anak yang lebih luas dan efektif,” ujar drg. Ellya Fardasah, Rabu (24/06/2026).

Menurutnya, kemampuan memanfaatkan teknologi menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Dengan akses informasi yang semakin mudah, masyarakat membutuhkan pendampingan dari tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan pemahaman yang terus berkembang.

Peringatan Hari Bidan Nasional tahun ini mengusung tema “Bidan Kuat, Perempuan Sehat, Indonesia Hebat”. Tema tersebut dinilai relevan dengan peran bidan yang tidak hanya memberikan pelayanan medis, tetapi juga berfungsi sebagai edukator kesehatan di tengah masyarakat.

Ellya menjelaskan, tantangan kesehatan saat ini tidak lagi sederhana. Upaya menekan angka stunting, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, hingga membangun generasi yang berkualitas membutuhkan pendekatan promotif dan preventif yang berkelanjutan.

Karena itu, ia meminta para bidan untuk semakin aktif menyampaikan edukasi mengenai keluarga berencana, pemberian ASI eksklusif, pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, serta kesehatan reproduksi remaja.

“Bidan adalah ujung tombak di masyarakat. Kuatkan peran promotif dan preventif, mulai dari program keluarga berencana, ASI eksklusif, gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan, hingga edukasi kesehatan reproduksi remaja,” katanya.

Selain peningkatan kompetensi individu, Dinkes P2KB juga menekankan pentingnya kolaborasi antartenaga kesehatan. Menurut Elya, berbagai persoalan kesehatan yang masih menjadi perhatian pemerintah tidak bisa diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan kerja sama yang kuat antara bidan, dokter, perawat, kader kesehatan, dan berbagai sektor terkait.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan menurunkan angka stunting maupun angka kematian ibu sangat bergantung pada soliditas tim di lapangan.

“Turunnya angka stunting maupun angka kematian ibu membutuhkan kerja tim yang solid. Karena itu, sinergi antarpelaku kesehatan harus terus diperkuat,” tegasnya.

Di sisi lain, Ellya juga mengingatkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh sikap empati yang ditunjukkan kepada pasien. Baginya, kehadiran bidan sering kali menjadi sumber ketenangan bagi ibu hamil dan keluarga saat menghadapi persoalan kesehatan.

“Pasien bukan sekadar angka. Sentuhan empati dari seorang bidan sering kali menjadi obat pertama yang dirasakan oleh ibu hamil dan keluarganya,” ungkapnya.

Pada Hari Bidan Nasional 2026 ini, Dinkes P2KB Sumenep turut memberikan apresiasi atas dedikasi para bidan yang selama ini telah mengabdikan diri hingga ke wilayah pelosok. Kontribusi mereka dinilai berperan besar dalam meningkatkan kesehatan perempuan dan anak sekaligus mendukung terwujudnya sumber daya manusia yang unggul.

Menutup pesannya, Ellya mengingatkan para bidan agar tetap menjaga kesehatan fisik dan mental di tengah tingginya tuntutan profesi yang diemban.

“Profesi ini mulia, tetapi juga penuh tantangan. Jangan lupa menjaga kesehatan diri, mengelola stres, dan saling menguatkan sesama bidan agar tetap mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *