Kesehatan

Dinkes P2KB Sumenep Perkuat Peran Ibu Hamil dan Kader Cegah Risiko Kesehatan Bayi Sejak Dini

914
×

Dinkes P2KB Sumenep Perkuat Peran Ibu Hamil dan Kader Cegah Risiko Kesehatan Bayi Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
Sosialisasi Skrining Bayi Baru Lahir kepada Ibu Hamil dan Kader yang digelar di Balai Desa Kalimook
Sosialisasi Skrining Bayi Baru Lahir kepada Ibu Hamil dan Kader yang digelar di Balai Desa Kalimook. Foto: Istimewa

Sumenep,locusjatim.com Upaya menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Sumenep terus diperkuat melalui deteksi dini sejak bayi baru lahir. Salah satu langkah yang dilakukan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep yakni meningkatkan pemahaman ibu hamil dan kader mengenai pentingnya skrining bayi baru lahir.

Penguatan edukasi tersebut dilakukan melalui kegiatan Sosialisasi Skrining Bayi Baru Lahir kepada Ibu Hamil dan Kader yang digelar di Balai Desa Kalimook, Kecamatan Kalianget, Senin (24/08/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan Tim Kerja Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Bidang Kesehatan Masyarakat itu menyasar ibu hamil, kader, dan bidan desa. Sosialisasi diarahkan untuk meningkatkan capaian skrining bayi baru lahir melalui program Cek Kesehatan Gratis pada Bayi Baru Lahir.

Kepala Dinkes P2KB Sumenep drg. Ellya Fardasah mengatakan, skrining bayi baru lahir merupakan bagian penting dari upaya menemukan gangguan kesehatan sedini mungkin, termasuk kondisi bawaan yang terkadang tidak terlihat secara langsung.

“Skrining bayi baru lahir ini sangat penting karena kita ingin memastikan gangguan kesehatan yang mungkin tidak terlihat sejak awal bisa diketahui sedini mungkin. Dengan deteksi lebih awal, tentu penanganannya juga bisa dilakukan lebih cepat,” ujar Ellya.

Menurutnya, keberhasilan skrining tidak hanya ditentukan oleh tenaga kesehatan ketika bayi sudah lahir. Pemahaman orang tua sejak masa kehamilan juga menjadi bagian penting agar keluarga siap mengikuti pemeriksaan yang diperlukan bagi bayi.

Karena itu, ibu hamil diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengambilan sampel darah melalui tumit bayi yang idealnya dilakukan pada usia 24 hingga 72 jam setelah lahir. Edukasi tersebut diharapkan membuat ibu tidak lagi merasa asing atau khawatir ketika bayinya harus menjalani prosedur skrining.

“Kami berharap ibu hamil sudah memahami sejak sekarang, sehingga ketika bayinya lahir nanti tidak ada lagi keraguan untuk mengikuti skrining. Orang tua harus tahu bahwa pemeriksaan ini merupakan bentuk ikhtiar untuk menjaga kesehatan dan masa depan anak,” jelasnya.

Selain ibu hamil, Dinkes P2KB Sumenep juga memberikan perhatian terhadap penguatan peran kader. Kader diposisikan sebagai agen edukasi sekaligus penghubung antara tenaga kesehatan dengan masyarakat di tingkat RT/RW dan Posyandu ILP.

Kader diharapkan mampu membantu mengidentifikasi serta mendata ibu hamil yang sudah mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL). Dengan begitu, informasi mengenai skrining bayi baru lahir dapat disampaikan lebih awal dan keluarga bisa mempersiapkan diri.

Peran kader juga dinilai penting untuk memberikan motivasi kepada orang tua baru agar tidak menolak prosedur skrining yang direkomendasikan tenaga kesehatan. Edukasi dari lingkungan terdekat diharapkan dapat membantu meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap program tersebut.

“Kader memiliki posisi yang sangat strategis karena mereka paling dekat dengan masyarakat. Kami berharap kader tidak hanya membantu pendataan, tetapi juga menjadi penyambung informasi dari tenaga kesehatan kepada ibu hamil dan keluarga, sehingga cakupan skrining bayi baru lahir semakin meningkat,” tegas Ellya.

Ia berharap kolaborasi antara tenaga kesehatan, bidan desa, kader, ibu hamil, dan keluarga dapat terus diperkuat. Menurutnya, semakin banyak bayi yang mendapatkan skrining sesuai waktu yang dianjurkan, semakin besar pula peluang gangguan kesehatan dapat ditemukan dan ditangani sejak dini.

“Harapan kami, tidak ada bayi yang terlewat dari skrining. Dengan keterlibatan semua pihak, mulai dari ibu hamil, keluarga, kader hingga tenaga kesehatan, kita bersama-sama bisa memperkuat upaya menurunkan angka kematian bayi di Sumenep,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *