Sumenep, locusjatim.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi membawa dampak langsung terhadap pola konsumsi masyarakat di Kabupaten Sumenep. Dalam beberapa pekan terakhir, Pertalite menjadi pilihan utama banyak pengendara, sehingga permintaannya meningkat tajam dan memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Fenomena tersebut muncul setelah sebagian pengguna Pertamax memilih beralih ke BBM bersubsidi demi menekan biaya operasional kendaraan. Akibatnya, stok Pertalite di sejumlah SPBU lebih cepat terserap dibandingkan biasanya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep memastikan kondisi itu bukan disebabkan oleh berkurangnya kuota BBM yang diterima daerah. Ketersediaan BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi, masih berada dalam skema distribusi yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan Pertamina.
Kepala Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Setdakab Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap isu pengurangan pasokan BBM.
“Yang pertama harus digarisbawahi, tidak ada pengurangan kuota, baik BBM bersubsidi maupun BBM nonsubsidi,” katanya.
Menurut Dadang, perbedaan jumlah alokasi BBM pada Juni dibandingkan Mei sering kali menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Padahal, pada Mei lalu terdapat tambahan kebutuhan karena bertepatan dengan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), sehingga distribusi BBM mengalami peningkatan sementara.
Selain dipengaruhi tingginya aktivitas masyarakat pada periode tertentu, perubahan pilihan bahan bakar menjadi faktor utama yang menyebabkan Pertalite lebih cepat habis di sejumlah SPBU. Selisih harga yang cukup signifikan antara BBM subsidi dan nonsubsidi membuat banyak pengguna kendaraan memilih alternatif yang lebih terjangkau.
Perubahan pola konsumsi itu tidak hanya terjadi pada kendaraan pribadi, tetapi juga kendaraan niaga yang berupaya mengurangi beban biaya operasional. Dampaknya, distribusi Pertalite dan Biosolar di sejumlah titik pengisian menjadi lebih cepat terserap dibandingkan perkiraan normal.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan antrean kendaraan yang lebih panjang, terutama pada jam-jam sibuk. Meski demikian, Pemkab Sumenep memastikan stok BBM secara umum masih tersedia dan distribusi tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku.
Pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau perkembangan konsumsi BBM di lapangan guna mengantisipasi potensi gangguan distribusi.
“Karena adanya kenaikan harga, masyarakat yang biasanya menggunakan Pertamax akhirnya beralih kepada BBM subsidi. Makanya BBM subsidi menjadi lebih cepat habis,” tutup Dadang. (*)






