Opini / Sastra

Lima Tahun Lagi, Pramuka Akan Ditinggalkan Generasi Muda!

0
×

Lima Tahun Lagi, Pramuka Akan Ditinggalkan Generasi Muda!

Sebarkan artikel ini

Ada sebuah kekhawatiran yang perlu kita bicarakan secara jujur: Pramuka berpotensi ditinggalkan generasi muda dalam lima tahun ke depan jika tidak mampu melakukan perubahan yang mendasar.

Ini bukan ramalan bahwa Pramuka akan hilang. Bukan pula kritik untuk menyalahkan para pembina, pelatih, pengurus kwartir , atau generasi terdahulu yang telah membangun Gerakan Pramuka. Justru sebaliknya, kritik ini penting karena Pramuka masih memiliki nilai yang sangat besar bagi masa depan generasi muda.

Namun, kita harus berani mengakui bahwa sesuatu yang pernah relevan belum tentu otomatis tetap relevan.

Generasi muda berubah. Dunia berubah. Teknologi berubah. Cara belajar berubah. Kebutuhan anak muda berubah. Bahkan cara mereka membangun komunitas, mencari pengalaman, berkomunikasi, dan menentukan masa depan juga berubah.

Jika Pramuka tidak ikut berubah, maka yang ditinggalkan bukan karena nilai-nilai kepramukaan sudah tidak dibutuhkan, tetapi karena cara Pramuka menyampaikan nilai-nilai tersebut tidak lagi menarik dan relevan bagi generasi muda.

Kegiatan yang Itu-Itu Saja Akan Kehilangan Daya Tarik

Salah satu persoalan yang paling nyata adalah kegiatan yang monoton dan berulang.

Upacara, latihan rutin, baris-berbaris, tali-temali, perkemahan, dan berbagai kegiatan kepramukaan tentu memiliki nilai pendidikan. Tetapi ketika semuanya dilakukan dengan pola yang sama dari tahun ke tahun tanpa inovasi, kegiatan tersebut berpotensi berubah dari pengalaman pendidikan menjadi sekadar rutinitas.

Generasi muda tidak kekurangan aktivitas. Mereka memiliki pilihan yang sangat banyak.

Mereka dapat belajar desain, teknologi, coding, kewirausahaan, fotografi, olahraga, musik, membuat konten, bergabung dalam komunitas sosial, mengikuti kompetisi, hingga membangun bisnis sejak usia muda.

Jika Pramuka hanya menawarkan kegiatan yang sama, sementara dunia di luar menawarkan pengalaman yang lebih beragam dan menantang, maka pertanyaannya sederhana:

Mengapa anak muda harus memilih Pramuka?

Pertanyaan tersebut harus dijawab oleh Pramuka sendiri, bukan dibebankan kepada generasi muda.

Anak Muda Jangan Hanya Menjadi Objek Pembinaan

Persoalan berikutnya adalah pola pembinaan yang terlalu didominasi orang dewasa.

Anak muda sering kali diposisikan sebagai objek yang dibina, bukan sebagai subjek yang memiliki gagasan, suara, dan kewenangan untuk menentukan arah kegiatannya sendiri.

Orang dewasa merancang kegiatan, orang dewasa menentukan program, orang dewasa menentukan apa yang dianggap baik, lalu anak muda tinggal menjalankan.

Pola seperti ini mungkin efektif pada masa tertentu. Tetapi generasi sekarang membutuhkan ruang partisipasi yang lebih besar.

Anak muda harus diberi kesempatan untuk bertanya, berbeda pendapat, mengkritik, merancang kegiatan, mengambil keputusan, memimpin proyek, bahkan melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.

Jangan sampai kita mengatakan Pramuka mengajarkan kepemimpinan, tetapi dalam praktiknya anak muda tidak diberi ruang untuk memimpin. Jangan sampai kita mengatakan Pramuka mengajarkan kemandirian, tetapi setiap gagasan anak muda harus menunggu persetujuan orang dewasa.

Dan jangan sampai kita mengatakan Pramuka adalah organisasi pendidikan kaum muda, tetapi kaum muda justru tidak memiliki cukup ruang untuk menentukan masa depannya sendiri.

Terlalu Banyak Membatasi, Terlalu Sedikit Memberi Kepercayaan

Pembinaan tentu membutuhkan aturan. Tetapi aturan seharusnya menjadi pagar agar anak muda tidak jatuh, bukan tembok yang menghalangi mereka bergerak.

Jika setiap kreativitas dibatasi oleh prosedur yang panjang, setiap gagasan baru dicurigai, setiap perbedaan dianggap sebagai pembangkangan, dan setiap eksperimen dianggap berisiko, maka anak muda akan mencari ruang lain yang lebih memberikan kebebasan.

Anak muda tidak selalu membutuhkan lebih banyak instruksi. Mereka membutuhkan lebih banyak kepercayaan.

Berikan mereka ruang untuk membuat kegiatan sendiri. Berikan kesempatan untuk mengelola anggaran secara bertanggung jawab. Berikan kesempatan membangun kolaborasi dengan komunitas lain. Biarkan mereka menciptakan format kegiatan baru.

Pembina seharusnya tidak selalu berada di depan sebagai pengendali. Dalam banyak situasi, pembina justru perlu berada di belakang sebagai mentor, fasilitator, dan penjaga arah.

Pramuka Tidak Boleh Terjebak dalam Romantisme Masa Lalu

Ada bahaya lain yang tidak kalah serius: terlalu sibuk mempertahankan masa lalu sehingga lupa mempersiapkan masa depan.

Pengalaman generasi terdahulu sangat berharga, tradisi harus dihormati, sejarah harus dipahami, tetapi sejarah tidak boleh menjadi alasan untuk menolak perubahan.

Anak muda hari ini tidak hidup dalam dunia yang sama dengan generasi 20 atau 30 tahun lalu. Mereka akan menghadapi kecerdasan buatan, perubahan iklim, disrupsi pekerjaan, ekonomi digital, perang informasi, persoalan kesehatan mental, ketidakpastian ekonomi, serta perubahan sosial yang sangat cepat.

Apakah Pramuka sudah cukup membekali mereka menghadapi itu?

Jika belum, maka di situlah pekerjaan rumah kita.

Pramuka harus mampu menerjemahkan nilai-nilai lama ke dalam tantangan baru.

Kemandirian dapat diterjemahkan menjadi kemampuan mengelola kehidupan dan karier di tengah ketidakpastian.

Gotong royong dapat diterjemahkan menjadi kemampuan berkolaborasi lintas komunitas dan lintas dunia digital.

Cinta alam dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata menghadapi krisis iklim.

Kepemimpinan dapat diterjemahkan menjadi kemampuan memimpin proyek, membangun organisasi, dan mengambil keputusan dalam situasi yang kompleks.

Keterampilan hidup harus berkembang menjadi keterampilan yang benar-benar dibutuhkan untuk hidup pada masa depan.

Jangan Hanya Sibuk dengan Seremonial

Pramuka juga perlu melakukan evaluasi terhadap budaya kegiatan yang terlalu menekankan seremonial.

Seragam, upacara, pelantikan, atribut, lomba, launching program, dan berbagai seremoni memang memiliki fungsi sebagai identitas dan tradisi. Tetapi jika sebagian besar energi organisasi habis untuk mengurus hal-hal administratif dan seremonial, sementara substansi pendidikan justru kurang mendapatkan perhatian, maka ada yang perlu diperbaiki.

Jangan sampai Pramuka terlihat aktif, tetapi sebenarnya tidak memberikan pengalaman yang bermakna bagi anak muda.

 

Banyak kegiatan bukan berarti banyak pembelajaran.

Banyak acara bukan berarti banyak perubahan.

Banyak peserta bukan berarti semuanya merasa memiliki.

Ukuran keberhasilan Pramuka seharusnya tidak hanya berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi berapa banyak anak muda yang tumbuh lebih mandiri, kreatif, tangguh, peduli, mampu memimpin, dan siap menghadapi masa depan setelah mengikuti kegiatan tersebut.

Senioritas Jangan Mengalahkan Meritokrasi

Budaya senioritas juga perlu dikritisi.

Pengalaman memang penting. Tetapi pengalaman tidak boleh menjadi tiket otomatis untuk selalu menentukan arah organisasi.

Generasi muda harus dihargai bukan hanya karena usia mereka bertambah, tetapi karena gagasan, kompetensi, integritas, dan kontribusinya.

Pramuka membutuhkan budaya yang memberikan ruang kepada orang yang memiliki ide bagus untuk mengembangkan ide tersebut, siapa pun usianya.

Generasi muda tidak boleh terus-menerus diberi pesan, “Kamu masih muda, belum waktunya menentukan, kamu peserta didik, kamu dewan kerja, kwartir yang memutuskan.”

Sebab kalau selalu menunggu sampai mereka dianggap cukup dewasa, kapan mereka akan belajar menjadi pemimpin?

Sementara di organisasi lain mereka merumuskan masa depan organisasinya sendiri, memutuskan sendiri, melaksanakan sendiri, mengevaluasi sendiri. Pantas organisasi lain jebolannya benar-benar menjadi pemimpin di negeri ini. Banyak wacana di Pramuka akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan, padahal memimpin Gerakan Pramuka saja mencari pejabat atau politisi yang tidak pernah ikut Pramuka.

Bagaimana Pramuka bisa menjadi pemimpin masa depan kalau hanya diajari memimpin regu?

Usia Penegak Pandega (16–25 tahun) tidak diberi ruang untuk mengambil keputusan. Tanda tangan pun anak muda dianggap kurang layak karena masih peserta didik. Di gugusdepan harus pembina, di satuan karya harus pimpinan SAKA, di dewan kerja harus kwartir. Kalau begitu, lebih baik ikut OSIS atau organisasi lain yang kalau dinilai lebih dipercaya belajar memimpin.

Dari itu semua, maka gugurlah Pramuka sebagai laboratorium kepemimpinan bangsa.

Padahal, keberhasilan datang dari keputusan yang tepat. Semua keputusan yang tepat berasal dari pengalaman, dan pengalaman kadang datang dari keputusan yang salah.

Jadi, keputusan yang salah adalah modal untuk menjadi sukses.

Pramuka Harus Hadir di Dunia Nyata Anak Muda

Pramuka juga perlu bertanya: apa persoalan nyata yang sedang dihadapi anak muda hari ini?

Bagaimana mereka menghadapi perubahan dunia kerja?

Bagaimana mereka membangun kemampuan finansial?

Bagaimana mereka menghadapi banjir informasi dan disinformasi?

Bagaimana mereka menggunakan AI?

Bagaimana mereka menjaga lingkungan?

Bagaimana mereka membangun jejaring?

Bagaimana mereka menciptakan peluang usaha?

Bagaimana mereka menghadapi tekanan sosial?

Bagaimana mereka menjadi warga negara yang kritis sekaligus bertanggung jawab?

Jika Pramuka tidak hadir dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka jangan heran jika anak muda mencari jawaban di tempat lain.

Pramuka Harus Menjadi Ruang Eksperimen

Masa depan tidak bisa dibangun hanya dengan program yang sudah diketahui hasilnya.

Pramuka harus berani menjadi laboratorium sosial bagi generasi muda.

Biarkan anak muda membuat proyek lingkungan.

Biarkan mereka mengembangkan aplikasi.

Biarkan mereka membuat media digital.

Biarkan mereka membangun usaha.

Biarkan mereka membangun jejaring seluas-luasnya dan se tinggi-tingginya.

Biarkan mereka membuat kegiatan lintas komunitas.

Biarkan mereka menyelesaikan persoalan di lingkungan sekitar.

Biarkan mereka mencoba.

Jika gagal, evaluasi.

Jika berhasil, kembangkan.

Inilah pendidikan yang sesungguhnya: bukan hanya mendengarkan nasihat, tetapi mengalami, mencoba, memimpin, gagal, memperbaiki, dan berhasil.

Jangan Hanya Bertanya Bagaimana Mempertahankan Anggota

Pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Bagaimana agar anak muda tetap masuk Pramuka?”

Tetapi:

“Mengapa anak muda harus memilih Pramuka?”

Jika jawaban kita hanya karena kewajiban sekolah, tradisi, seragam, atau karena sudah dilakukan sejak dahulu, maka kita sedang berada dalam masalah.

 

Anak muda akan bertahan jika mereka merasa Pramuka memberikan sesuatu yang berharga bagi hidup mereka.

Mereka harus merasa bahwa Pramuka adalah tempat untuk belajar, bertumbuh, berteman, berkreasi, memimpin, berkontribusi, dan mempersiapkan masa depan.

Lima Tahun Bukan Waktu yang Lama

Lima tahun lagi, generasi yang hari ini duduk di bangku sekolah akan menjadi bagian penting dari masyarakat, dunia kerja, kampus, komunitas, dan kepemimpinan bangsa.

Pertanyaannya: apakah mereka masih melihat Pramuka sebagai ruang yang menarik untuk berkembang?

Jawabannya sangat bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.

Jika kegiatan tetap monoton, anak muda hanya menjadi objek pembinaan, ruang gerak terus dibatasi, keputusan terlalu didominasi orang dewasa, budaya senioritas dibiarkan, inovasi dicurigai, kegiatan lebih banyak seremonial daripada pengalaman, dan program tidak menjawab kebutuhan masa depan, maka Pramuka memang berisiko ditinggalkan generasi muda.

Tetapi jika Pramuka berani berubah, masa depannya justru bisa sangat kuat.

Pramuka tidak perlu menjadi organisasi yang mengikuti semua tren anak muda. Pramuka juga tidak perlu kehilangan jati dirinya demi terlihat modern.

Yang diperlukan adalah keberanian membedakan mana nilai yang harus dipertahankan dan mana cara yang harus diperbarui.

Nilai boleh tetap kokoh.

Cara harus terus berkembang.

Tradisi boleh dijaga.

Inovasi harus diberi ruang.

Orang dewasa tetap dibutuhkan.

Tetapi anak muda harus dipercaya.

Karena pada akhirnya, masa depan Pramuka tidak akan ditentukan oleh seberapa kuat generasi sekarang mempertahankan Pramuka, melainkan seberapa jauh generasi muda merasa bahwa Pramuka adalah milik mereka dan relevan dengan masa depan mereka.

Jika hari ini kita gagal memberikan ruang kepada mereka, jangan salahkan mereka ketika lima tahun lagi mereka memilih ruang yang lain.

Bukan generasi muda yang harus dipaksa mencintai Pramuka. Pramukalah yang harus terus berusaha menjadi sesuatu yang layak dicintai dan dibutuhkan oleh generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *