Setiap kali gerbang Tahun Baru Hijriyah tiba, beranda media sosial kita mendadak berubah wajah. Pola yang sama berulang setiap tahun, dipenuhi oleh grafis ucapan selamat yang estetik, twibbon berwarna-warni, serta teks doa-doa puitis yang dicopy-paste dari satu grup percakapan ke grup lainnya. Atmosfer digital terasa begitu religius dan penuh suka cita. Namun, sebuah pertanyaan reflektif muncul saat malam makin larut dan layar ponsel akhirnya dimatikan: apakah semua keriuhan visual itu membekas di dalam jiwa, atau menguap begitu saja bersama redupnya piksel layar?
Di era digital, ekspresi keberagamaan memang menemukan ruang baru. Satu unggahan dapat menjangkau ribuan orang hanya dalam hitungan detik. Pada satu sisi, hal ini merupakan peluang besar untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Akan tetapi, pada sisi lain, media sosial juga menghadirkan jebakan yang tidak selalu kita sadari, yaitu kecenderungan untuk menampilkan kesalehan sebagai citra. Kita menjadi sangat sibuk memperlihatkan bahwa kita sedang berbuat baik, hingga terkadang lupa memastikan apakah kebaikan itu benar-benar tumbuh dalam diri kita.
Fenomena ini mengingatkan kita pada peringatan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din bahwa amal yang dilakukan demi pandangan manusia dapat terjerumus pada penyakit riya’, yaitu keinginan memperoleh pujian dari selain Allah. Al-Ghazali menegaskan bahwa hati manusia sering kali tertipu oleh penampilan lahiriah yang tampak saleh, padahal niat yang tersembunyi belum tentu lurus. Dalam konteks media sosial, peringatan ini terasa semakin relevan. Kita dapat dengan mudah menampilkan citra religius hanya melalui beberapa sentuhan jari, sementara kualitas spiritual yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar diuji.
Padahal, akar sejarah kalender Hijriyah berporos pada peristiwa Hijrah yang dilakukan oleh dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi total yang mengubah cara berpikir, cara hidup, dan orientasi keberadaan manusia. Karena itu, makna hijrah sesungguhnya bukan terletak pada pergantian angka tahun, melainkan pada keberanian meninggalkan keburukan menuju kebaikan.
Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam pernah mengingatkan:
“Janganlah kecilnya suatu amal membuatmu meninggalkannya, karena engkau tidak tahu amal mana yang diterima oleh Allah.”
Pesan ini mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu harus diumumkan kepada publik. Kadang-kadang, hijrah justru dimulai dari langkah-langkah kecil yang tidak terlihat siapa pun: memperbaiki salat, menahan amarah, menjaga lisan, atau membiasakan diri berlaku jujur. Amal-amal sunyi semacam inilah yang sering kali lebih bernilai daripada seribu unggahan yang penuh simbol religius.
Sayangnya, budaya digital modern cenderung mengarahkan manusia pada logika yang berbeda. Segala sesuatu diukur melalui angka, jumlah pengikut, jumlah tayangan, jumlah komentar, dan jumlah tanda suka. Ukuran-ukuran tersebut perlahan memengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Kesalehan tidak lagi dinilai dari kedalaman hubungan dengan Tuhan, tetapi dari seberapa banyak pengakuan yang diperoleh dari manusia.
Kondisi ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai religiusitas performatif, yakni keberagamaan yang lebih menekankan tampilan daripada substansi. Kita sibuk membangun panggung kesalehan di ruang digital, sementara ruang batin kita justru sepi dari proses perbaikan diri. Akibatnya, tahun demi tahun berlalu tanpa perubahan yang berarti. Kita tetap mudah marah, sulit memaafkan, enggan introspeksi, dan belum mampu mengendalikan hawa nafsu. Yang berubah hanya desain twibbon dan kata-kata ucapan tahun baru yang kita bagikan.
Jalaluddin Rumi pernah berkata:
“Kemarin aku pintar, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku bijaksana, maka aku mengubah diriku sendiri.”
Ungkapan ini mengandung pelajaran penting bahwa transformasi sejati selalu dimulai dari dalam diri. Hijrah bukanlah proyek pencitraan sosial, melainkan proyek pembenahan jiwa. Semakin seseorang sibuk memperbaiki dirinya, semakin sedikit ia memiliki waktu untuk mempertontonkan dirinya.
Pandangan serupa juga dapat ditemukan dalam pemikiran . Dalam berbagai tulisannya, Hamka menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh apa yang tampak di hadapan publik, melainkan oleh kualitas budi pekerti yang hidup dalam dirinya. Menurut Hamka, kemajuan spiritual harus tercermin dalam akhlak yang nyata, bukan sekadar slogan atau simbol yang dipertontonkan.
Oleh karena itu, momentum Tahun Baru Hijriyah seharusnya menjadi waktu terbaik untuk melakukan muhasabah. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, dosa apa yang masih terus diulangi? Kebiasaan buruk apa yang belum berhasil ditinggalkan? Kebaikan apa yang selama ini hanya menjadi wacana? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini memang tidak nyaman, tetapi justru di situlah letak nilai hijrah yang sesungguhnya.
Mungkin langkah pertama yang perlu dilakukan bukanlah membuat unggahan ucapan selamat tahun baru yang paling menarik, melainkan berani mematikan sejenak hiruk-pikuk media sosial. Memberi ruang bagi hati untuk berbicara jujur kepada dirinya sendiri. Sebab perubahan yang hakiki lahir dari keheningan refleksi, bukan dari keramaian notifikasi.
Tahun Baru Hijriyah pada akhirnya bukanlah perayaan tentang pergantian kalender. Ia adalah undangan untuk melakukan perjalanan batin, perjalanan dari kelalaian menuju kesadaran, dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari kemunafikan menuju keikhlasan, dan dari kebiasaan buruk menuju akhlak yang lebih mulia.
Karena itu, mari kita buktikan bahwa doa, harapan, dan resolusi yang kita bagikan bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Mari menjadikan tahun baru ini sebagai momentum hijrah yang nyata. Sebab pada akhirnya, hijrah yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa estetis ucapan yang kita unggah, tetapi dari seberapa jauh jiwa kita telah berpindah menuju ridha Allah.










