BeritaHeadline

Gandeng Rescue China, NU Care-LAZISNU Jatim Perkuat Kesiapsiagaan Relawan Bencana

911
×

Gandeng Rescue China, NU Care-LAZISNU Jatim Perkuat Kesiapsiagaan Relawan Bencana

Sebarkan artikel ini
Pelatihan Manajemen Bencana yang menggandeng Shenzhen Rescue Volunteers Federation (SRVF) dari China.
Pelatihan Manajemen Bencana yang menggandeng Shenzhen Rescue Volunteers Federation (SRVF) dari China. Foto: Istimewa

Lumajang, locusjatim.com – Kesiapsiagaan menghadapi bencana menjadi perhatian NU Care-LAZISNU Jawa Timur. Penguatan kapasitas relawan dilakukan melalui Pelatihan Manajemen Bencana yang menggandeng Shenzhen Rescue Volunteers Federation (SRVF) dari China.

Pelatihan yang berlangsung di Restoran Warung Ayam Pedas Bedjo, Kabupaten Lumajang, Kamis (24/9/2026), merupakan bagian dari program Community Emergency Response Partnership (CERP).

Kegiatan mengusung tema Skills for Safety, Neighbors for Each Other. Program tersebut sebelumnya juga digelar di Kabupaten Lamongan pada Selasa (22/9/2026) dan Kota Surabaya pada Rabu (23/9/2026).

Pelatihan diikuti berbagai unsur kebencanaan dan kemanusiaan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Di antaranya LAZISNU, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU), NU Peduli, Banser Tanggap Bencana (Bagana), Garda Fatayat NU (Garfa), Corps Brigade Pembangunan (CBP), Korps Pelajar Putri (KPP), serta Sako Pramuka Ma’arif NU.

Direktur Wilayah NU Care-LAZISNU Jatim, Moch Rofii Boenawi, mengatakan penguatan kapasitas relawan diperlukan agar penanganan bencana dapat dilakukan secara terarah, mulai dari tahap kesiapsiagaan hingga pemulihan.

Menurutnya, kehadiran NU dalam penanganan bencana juga tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi. Pendampingan terhadap masyarakat terdampak terus dilakukan hingga tahap pascabencana.

Salah satu bentuknya diwujudkan melalui pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bagi penyintas erupsi Gunung Semeru di Candipuro, Lumajang.

“Jadi, sebelum acara ini kamu membawa tim SRVF melihat langsung hunian tetap di Candipuro. Di sana juga dilengkapi fasilitas pendukung seperti tiga rumah ibadah dan minimarket. Ini bukti bahwa NU juga hadir dan membantu warga terdampak pasca bencana,” ujarnya.

Rofii yang juga Sekretaris LAZISNU Jatim menekankan bahwa penanganan bencana tidak bisa mengandalkan satu organisasi. Kolaborasi dan pembagian tugas antarlembaga menjadi bagian penting agar respons di lapangan berjalan efektif.

“Penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Diperlukan koordinasi dan pembagian tugas yang jelas agar setiap unsur dapat menjalankan perannya dengan baik,” katanya.

Ia menjelaskan, pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi para relawan untuk memperkuat pemahaman mengenai tahapan penanganan bencana. Mulai dari persiapan sebelum bencana, tanggap darurat, evakuasi, pendataan, distribusi bantuan, hingga proses pemulihan.

“Relawan perlu memahami tugas dan tanggung jawabnya sejak sebelum bencana terjadi, saat tanggap darurat, hingga tahap pemulihan. Dengan demikian, penanganan di lapangan dapat dilakukan secara terarah,” katanya.

Melalui pelatihan bersama SRVF, NU Care-LAZISNU Jatim berharap kemampuan sumber daya manusia di bidang kebencanaan semakin kuat. Selain keterampilan teknis, koordinasi antarelemen juga diharapkan semakin terbangun.

“Rangkaian pelatihan di sejumlah daerah tersebut sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan sumber daya manusia dalam menghadapi bencana,” ucapnya.

Sementara itu, Manajer Human Resources General Affairs (HRGA) NU Care-LAZISNU PBNU, Dewi Rochmawati, mengatakan kerja sama dengan SRVF dilakukan karena organisasi tersebut memiliki kompetensi dalam bidang penyelamatan dan kebencanaan.

Menurut Dewi, kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari keberlanjutan berbagai inisiatif kerja sama antara Indonesia dan China yang sebelumnya telah dilakukan sejumlah lembaga NU.

“Kolaborasi itu juga menjadi kelanjutan dari sejumlah inisiasi kerja sama antara pihak Indonesia dan China yang sebelumnya dilakukan oleh sejumlah lembaga NU,” terangnya.

Dewi menjelaskan, program CERP dilaksanakan dalam empat angkatan atau batch. Batch pertama telah digelar di delapan titik, termasuk Jakarta, Bogor, Tangerang, Jogja, dan Karawang.

Sementara batch kedua menyasar sejumlah daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, termasuk rangkaian pelatihan yang berlangsung di Lamongan, Surabaya, dan Lumajang.

“Program ini akan berlangsung selama empat angkatan. Kita sebutnya dengan batch,” ungkapnya.

Tak hanya memberikan pelatihan, program tersebut juga membuka peluang bagi peserta terbaik untuk mengikuti pelatihan lanjutan di China. Peserta terpilih nantinya dipersiapkan menjadi trainer yang dapat meneruskan pengetahuan kebencanaan kepada relawan lainnya.

Dewi menuturkan, tujuan program tidak sebatas meningkatkan kemampuan individu. Lebih dari itu, pelatihan diarahkan untuk membangun kekuatan kolektif melalui NU Peduli dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

“Ini harus dilaksanakan secara kolektif dan bersama-sama untuk menghasilkan sebuah kekuatan yang kita sebut dengan NU Peduli untuk menghadapi kesiapsiagaan kita terhadap bencana,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *