Pendidikan

PODKHAS UIN KHAS Jember Kupas Sukses Madrasah Lumajang, 40 Persen Lulusan Lanjut ke PTN

964
×

PODKHAS UIN KHAS Jember Kupas Sukses Madrasah Lumajang, 40 Persen Lulusan Lanjut ke PTN

Sebarkan artikel ini

Jember,locusjatim.com Madrasah aliyah berbasis pesantren di Kabupaten Lumajang terus menunjukkan daya saing yang semakin kuat. Tidak hanya unggul dalam pembentukan karakter keagamaan, lembaga pendidikan tersebut juga berhasil mengantarkan banyak siswanya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

Fakta itu mengemuka dalam episode perdana program podcast Titik Temu yang tayang melalui kanal YouTube UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember pada 26 Mei 2026. Program yang menjadi bagian dari PODKHAS tersebut mengangkat tema “Dari Pesantren ke Perkuliahan: Membangun Generasi Berprestasi dan Siap Kuliah”.

Hadir sebagai narasumber Ketua Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) Kabupaten Lumajang, Hasan Asy’iri, dan Ketua Lembaga Bimbingan Karier (LBK) Ma’had Aly Nurul Qadim, Agus Supriyadi. Diskusi dipandu dosen Fakultas Syariah UIN KHAS Jember, Ainun Zamilah.

Dalam kesempatan itu, Hasan mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen lulusan Madrasah Aliyah di Kabupaten Lumajang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri setiap tahunnya. Mereka tersebar di berbagai kampus, termasuk perguruan tinggi keagamaan Islam negeri maupun universitas negeri umum.

Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari upaya madrasah dalam membangun budaya prestasi sejak dini. Saat ini terdapat sekitar 89 Madrasah Aliyah di Lumajang yang terus didorong untuk memiliki program pembinaan prestasi bagi siswa maupun tenaga pendidik.

“Budaya berprestasi kami bangun tidak hanya untuk siswa, tetapi juga guru. Dengan cara itu, lingkungan madrasah menjadi lebih kompetitif dan inovatif dalam menghasilkan berbagai capaian positif,” ujarnya.

Hasan menambahkan, dukungan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi seperti UIN KHAS Jember, turut memberikan motivasi bagi madrasah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusianya.

Sementara itu, Agus Supriyadi menilai paradigma masyarakat terhadap madrasah perlu terus diperbarui. Menurutnya, madrasah saat ini bukan lagi lembaga yang hanya fokus pada pendidikan keagamaan, melainkan juga menjadi ruang pengembangan berbagai potensi akademik dan non-akademik peserta didik.

Ia menjelaskan, siswa madrasah secara rutin mengikuti berbagai kompetisi mulai dari Kompetisi Sains Madrasah (KSM), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), lomba jurnalistik, karya tulis ilmiah, hingga beragam ajang akademik tingkat regional maupun nasional.

“Peserta didik madrasah saat ini memiliki peluang yang sama untuk berkembang di berbagai bidang. Mereka tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga kemampuan akademik dan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan,” katanya.

Untuk mencetak siswa berprestasi, madrasah di Lumajang menerapkan sistem pembinaan berjenjang. Seleksi dilakukan mulai tingkat internal madrasah, kemudian berlanjut ke tingkat wilayah hingga kabupaten sebelum bersaing dengan siswa sekolah umum.

Menurut Agus, pola tersebut memudahkan madrasah melakukan evaluasi sekaligus menyusun strategi pembinaan yang lebih tepat sasaran.

Dalam diskusi itu, kedua narasumber juga menyoroti peran pesantren dalam membentuk karakter siswa. Lingkungan pendidikan yang berlangsung hampir sepanjang hari dinilai menjadi keunggulan tersendiri dalam menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan spiritualitas.

Salah satu program yang menjadi identitas madrasah di Lumajang adalah Gerakan Santri Lumajang yang dilaksanakan setiap Kamis. Melalui program tersebut, seluruh warga madrasah mengenakan busana santri dan memulai aktivitas belajar dengan membaca Al-Qur’an serta wirid sesuai tradisi masing-masing lembaga.

“Program ini bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan bagian dari pembentukan karakter dan identitas peserta didik sebagai generasi yang berakhlak dan berbudaya,” kata Hasan.

Lebih lanjut, Hasan menegaskan bahwa pengalaman mengikuti kompetisi dan berbagai aktivitas akademik selama di madrasah menjadi modal penting ketika siswa memasuki dunia perguruan tinggi.

“Ketika siswa terbiasa mengikuti lomba, menulis karya ilmiah, dan aktif dalam berbagai kegiatan akademik, mereka akan lebih siap menghadapi tantangan di bangku kuliah,” ujarnya.

Agus bahkan membagikan pengalaman tentang seorang siswa jurusan IPS yang berhasil diterima pada Program Studi Tadris IPA. Kisah tersebut menunjukkan bahwa peluang siswa madrasah untuk menekuni berbagai bidang ilmu terbuka lebar selama memiliki kemauan belajar yang kuat.

Menurutnya, madrasah kini semakin fleksibel melalui penerapan kurikulum diferensiasi dan penguatan Kurikulum Berbasis Cinta yang memungkinkan siswa mengembangkan minat sesuai rencana karier dan studi mereka.

“Jangan lagi melihat madrasah hanya dari satu sisi. Saat ini madrasah mampu menjadi tempat tumbuhnya berbagai potensi dan cita-cita peserta didik,” tuturnya.

Menjelang akhir diskusi, kedua narasumber mendorong lulusan madrasah agar tidak ragu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka menilai pendidikan tinggi menjadi bekal penting untuk menghadapi perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

“Era sekarang menuntut generasi muda terus meningkatkan kapasitas diri. Melanjutkan kuliah menjadi salah satu langkah penting agar mereka memiliki bekal menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *