Di balik kehidupan masyarakat Dusun Banyukerto, Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, tersimpan kisah panjang tentang sosok yang dipercaya memiliki peran besar dalam membuka kawasan tersebut dari belantara menjadi permukiman.
Nama itu adalah Raden Tirtosari, seorang tokoh yang dalam cerita sejarah lisan masyarakat setempat dikenal sebagai pembabat alas, pemimpin, sekaligus ulama yang memiliki pengaruh kuat terhadap kehidupan masyarakat Banyukerto pada masa lampau.
Kisah tentang Raden Tirtosari diwariskan secara turun-temurun. Cerita tersebut tidak hanya berkaitan dengan bagaimana sebuah wilayah dibuka, tetapi juga menggambarkan keteguhan iman, kepemimpinan, keberanian melawan penjajahan, hingga berbagai kisah karomah yang dipercaya pernah menyertai perjuangannya.
Silsilah Raden Tirtosari
Raden Tirtosari memegang jabatan sebagai Demang di wilayah pesisir Banyuglugur dan sekitarnya, bukan seorang Tumenggung. Di dalam struktur birokrasi pemerintahan era abad ke-18 dan 19, serta berdasarkan kedudukan keluarga besarnya, berikut fakta resminya:
Pembagian Wilayah Kekuasaan Trah: Kedudukan tertinggi di wilayah Karesidenan Besuki (Bupati Utama) kala itu dipegang oleh penguasa yang bergelar Tumenggung (seperti K.R.T. Prawiroadiningrat).
Sementara itu, sepupu/paman beliau, Raden Bagus Asra (Ki Ronggo), memegang mandat otonom untuk membuka dan menjadi Penguasa Wilayah Selatan (Bondowoso).
Mandat Kedemangan untuk Pesisir: Sebagai bagian dari lingkaran keluarga dekat atau pancer elit trah Madura Pamekasan tersebut, Raden Tirtosari diberikan kedudukan formal sebagai Demang (Kepala Distrik/Wedana Kuno) untuk memimpin dan menjaga keamanan di pos strategis wilayah barat laut, yaitu daerah Banyukerto, Kalianget, dan Banyuglugur.
Atribut tombak Baru Kuping dengan selongsong logam tipis berukir serta batu nisan maesan bersayap berukuran sedang yang beliau miliki adalah tanda kepangkatan resmi (atribut protokoler sah) seorang Demang ningrat di bawah naungan Kadipaten Besuki tempo dulu.
Membuka Hutan Belantara Menjadi Permukiman
Pada masa lalu, kawasan pesisir barat Besuki, termasuk wilayah sekitar Banyuglugur hingga pedalaman, dipercaya masih berupa hutan belantara yang lebat dan penuh tantangan.
Dalam cerita masyarakat, Raden Tirtosari datang bersama para pengikutnya untuk membuka kawasan tersebut. Proses pembukaan hutan atau babad alas dilakukan dengan menghadapi berbagai rintangan alam serta kondisi lingkungan yang pada masa itu masih sangat liar.
Dengan keteguhan dan kepemimpinannya, Raden Tirtosari kemudian menetapkan batas-batas wilayah dan membuka kawasan yang kelak berkembang menjadi permukiman masyarakat.
Dari proses itulah, menurut kisah yang berkembang di tengah masyarakat, lahirlah kawasan yang kini dikenal sebagai Dusun Banyukerto, Desa Kalianget.
Dalam tradisi Jawa, tokoh yang dianggap sebagai pembuka suatu wilayah memiliki kedudukan penting dalam sejarah dan struktur sosial masyarakat. Karena itu, sosok Raden Tirtosari kemudian dikenal dengan gelar Tumenggung.
Gelar tersebut menjadi bagian penting dari identitas sejarah Raden Tirtosari sebagai tokoh yang dipercaya memiliki peran dalam membuka dan membangun kehidupan masyarakat di wilayah Banyukerto.
Pemimpin yang Menempatkan Adab di Atas Segalanya
Raden Tirtosari dalam cerita masyarakat bukan hanya digambarkan sebagai sosok pemberani. Ia juga dikenal sebagai seorang ulama yang sangat menekankan pentingnya adab dan akhlak.
Kepemimpinannya disebut dibangun bukan semata-mata melalui kekuatan, tetapi melalui keteladanan.
Ia mengajarkan kepada pengikut dan masyarakat agar menjaga tata krama, menghormati sesama, serta menjadikan akhlak sebagai landasan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, sosok Raden Tirtosari hingga kini tidak hanya dikenang sebagai pembuka wilayah, tetapi juga sebagai figur yang mewariskan nilai moral kepada masyarakat dan keturunannya.
Kisah Pagar Gaib Banyukerto
Salah satu cerita paling populer yang berkembang mengenai Raden Tirtosari berkaitan dengan perlindungan terhadap wilayah Banyukerto.
Masyarakat setempat menuturkan bahwa Raden Tirtosari dipercaya memiliki karomah untuk melindungi wilayah yang dipimpinnya dari orang-orang yang berniat jahat.
Dalam salah satu kisah, sejumlah pencuri disebut pernah berniat memasuki Banyukerto untuk melakukan aksi kejahatan.
Namun, ketika memasuki wilayah tersebut, para pencuri itu dipercaya mengalami pandangan yang berbeda. Banyukerto seolah-olah berubah menjadi lautan luas.
Dalam keadaan kebingungan, mereka bahkan disebut menaiki sebuah lesung panjang atau ronjengan dalam istilah Madura dan menggunakannya layaknya sebuah perahu.
Cerita tersebut kemudian menjadi salah satu legenda yang terus dituturkan masyarakat sebagai gambaran tentang karomah dan perlindungan spiritual Raden Tirtosari terhadap Banyukerto.
Menolak Tunduk kepada Belanda
Kisah tentang Raden Tirtosari juga tidak lepas dari cerita mengenai perjuangannya menghadapi pemerintahan kolonial Belanda.
Dalam sejarah lisan masyarakat, Raden Tirtosari dikenal sebagai sosok yang memiliki pendirian kuat dan tidak mudah diajak bekerja sama dengan pihak Belanda, terutama ketika kebijakan kolonial dianggap merugikan masyarakat.
Sikap tersebut kemudian dipercaya memicu kemarahan pihak Belanda.
Dalam sebuah cerita yang diwariskan secara turun-temurun, pasukan Belanda bahkan disebut pernah berniat membakar kawasan Banyukerto sebagai bentuk hukuman terhadap perlawanan Raden Tirtosari.
Namun, ketika pasukan tersebut tiba, muncul kisah mengenai karomah Raden Tirtosari. Wilayah Banyukerto dipercaya tiba-tiba terlihat seperti lautan luas di mata pasukan Belanda.
Karena kebingungan dan ketakutan, pasukan tersebut akhirnya disebut mengurungkan niatnya untuk membakar perkampungan.
Kisah itu hingga kini menjadi bagian dari cerita spiritual masyarakat mengenai bagaimana Banyukerto dipercaya pernah mendapatkan perlindungan melalui karomah Raden Tirtosari.
Menggagalkan Peredaran Candu
Kisah lain yang tak kalah menarik berkaitan dengan penyelundupan candu atau madat.
Dalam cerita tutur masyarakat, Raden Tirtosari bersama pasukannya disebut pernah
Menggagalkan upaya penyelundupan opium di kawasan pesisir utara Banyukerto.
Ada versi cerita yang menyebutkan penyelundup dicegat sebelum barang tersebut mencapai daratan. Ada pula versi yang mengisahkan bahwa guci-guci berisi candu sempat disembunyikan di kawasan pesisir sebelum akhirnya ditemukan oleh pasukan Raden Tirtosari.
Apa pun versinya, inti cerita tersebut menggambarkan ketegasan Raden Tirtosari dalam memberantas peredaran madat yang dinilai dapat merusak masyarakat.
Ia juga dipercaya tidak mengambil keuntungan dari barang sitaan tersebut.
Menurut kisah yang berkembang, seluruh barang bukti kemudian diserahkan kepada pemerintah. Atas keberhasilan tersebut, Raden Tirtosari disebut memperoleh hadiah dalam jumlah sangat besar.
Harta tersebut kemudian dipercaya digunakan untuk membeli dan memperluas kepemilikan lahan pertanian, termasuk di wilayah Kalianget.
Dalam cerita masyarakat, kepemilikan tanah Raden Tirtosari bahkan disebut meluas hingga kawasan Tamporah, Sletreng, dan Lubawang.
Warisan yang Lebih Besar dari Sekadar Tanah
Terlepas dari berbagai versi cerita yang berkembang, sosok Raden Tirtosari memiliki tempat tersendiri dalam ingatan masyarakat Banyukerto.
Warisan yang dikaitkan dengannya bukan hanya berupa tanah dan wilayah permukiman, tetapi juga nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, kejujuran, keteguhan iman, serta pentingnya menjaga akhlak.
Raden Tirtosari digambarkan sebagai perpaduan antara seorang pemimpin, ulama, pembabat alas, dan pelindung masyarakat.
Kisah tentang karomahnya pun menjadi bagian dari identitas budaya dan sejarah lisan yang terus hidup dari generasi ke generasi di Dusun Banyukerto, Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo.
Cerita-cerita tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah wilayah tidak lahir begitu saja. Di balik terbentuknya sebuah permukiman, selalu ada perjuangan, tokoh, dan generasi yang meletakkan fondasinya.
Doa untuk Sang Leluhur
Bagi masyarakat yang meyakini kisah dan perjuangan Raden Tirtosari, mengenang beliau bukan sekadar menelusuri masa lalu, tetapi juga mengambil nilai keteladanan yang diwariskannya.
Keteguhan iman, keberanian membela masyarakat, kedisiplinan menjaga adab, serta kejujuran dalam menjalankan amanah menjadi nilai yang tetap relevan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Semoga Allah SWT memberikan ampunan dan rahmat kepada Raden Tirtosari, melapangkan tempat peristirahatannya, serta menerima segala perjuangan dan amal baiknya.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.
Semoga keteladanan yang dipercaya diwariskan Raden Tirtosari terus menjadi suluh bagi anak keturunan dan masyarakat Banyukerto dalam menjaga persaudaraan, akhlak, serta kemakmuran tanah yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah mereka.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.











