Jember, locusjatim.com – Gaya bicara pelan dan lembut menjadi ciri khas Nurul Hasanah dalam membuat konten di media sosial. Kreator konten asal Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu dikenal dengan sebutan Madura Soft Spoken karena memadukan bahasa Madura dengan cara bicara yang tidak lantang.
Melalui kontennya, Nurul memperlihatkan sisi lain masyarakat Madura yang selama ini kerap diasosiasikan dengan gaya bicara tegas dan lantang. Ia ingin menunjukkan bahwa orang Madura juga memiliki karakter yang beragam, termasuk mereka yang berbicara dengan nada lembut.
Perjalanan Nurul membangun identitas di media sosial bermula pada tahun lalu. Awalnya, ia membuat konten ulasan berbagai usaha, terutama di bidang kecantikan, seperti klinik kecantikan.
Saat itu, kontennya belum berfokus pada personal branding. Ia lebih banyak membuat ulasan layaknya beauty vlogger yang membagikan informasi seputar layanan kecantikan.
Perubahan terjadi ketika Nurul mulai mencoba membuat konten di TikTok. Ia melihat banyak kreator menggunakan bahasa Madura dan merasa bahasa tersebut bisa membuatnya lebih dekat dengan penonton.
“Kontennya itu menggunakan bahasa Madura. Jadi awalnya itu saya kan konten di Instagram aja, biasa pakai bahasa Indonesia. Kemudian saya tertarik untuk konten di TikTok, saya lihat di tiktok itu kebanyakan orang kan berbahasa madura, kayaknya lebih dekat kalau saya berbahasa Madura nih.” ungkap Nurul saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Selasa (20/10/2026).
Dari situ, ia mulai memadukan bahasa Madura dengan gaya bicara pelan yang memang menjadi karakter dirinya. Ia awalnya ingin membangun persona perempuan soft spoken, tetapi kemudian menemukan bahwa penggunaan bahasa Madura membuat kontennya terasa lebih alami.
Pilihan tersebut ternyata mendapat sambutan positif. Kontennya yang diunggah ke TikTok dan Instagram sama-sama menarik perhatian warganet. Bahkan, menurut Nurul, respons di Instagram sempat lebih besar.
Ia mengaku terharu ketika membaca komentar dari warganet yang berasal dari sejumlah daerah di Madura, seperti Pamekasan dan Sumenep.
Sapaan dari pengguna media sosial di berbagai daerah itu membuatnya merasa memiliki kedekatan dengan penonton yang menikmati kontennya.
Di balik karakter yang kini dikenal warganet, Nurul mengaku pernah merasa kurang percaya diri dengan suaranya sendiri.
Ia merasa cara bicaranya terlalu lambat dan suaranya terlalu pelan ketika mendengarkan ulang rekaman wawancara maupun konten yang dibuatnya.
Saat masih membuat konten berbahasa Indonesia, ia bahkan mempercepat rekaman hingga 1,3 kali agar terdengar lebih cepat.
Namun, seiring berjalannya waktu, karakter yang sempat membuatnya tidak percaya diri justru menjadi keunikan yang membedakannya dari kreator lain.
Nurul tidak lagi berusaha mengubah gaya bicaranya agar terdengar seperti orang lain. Ia memilih menjadikan karakter tersebut sebagai bagian dari identitas kontennya.
Bahasa Madura sendiri telah melekat dalam kehidupan Nurul sejak kecil. Lahir dan besar di Mumbulsari, ia terbiasa menggunakan bahasa Madura saat berkomunikasi dengan kedua orang tuanya.
Kemampuan berbahasa Indonesianya mulai berkembang ketika memasuki jenjang sekolah menengah atas di MAN 1. Saat itu, ia bersekolah di lingkungan perkotaan dan berinteraksi dengan teman-teman yang menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin lancar menggunakan bahasa Indonesia tanpa meninggalkan bahasa Madura yang menjadi bagian dari kesehariannya.
Kini, konten Nurul tidak hanya menggunakan bahasa Madura. Sesekali, ia juga memadukannya dengan bahasa Inggris.
Bagi Nurul, konten Madura Soft Spoken bukan upaya untuk mengubah karakter masyarakat Madura. Ia justru ingin memperlihatkan bahwa tidak semua orang Madura memiliki gaya bicara yang sama.
Menurutnya, masyarakat Madura memiliki beragam karakter. Ada yang berbicara dengan suara lantang, ada pula yang lembut dan pelan seperti dirinya.
“Saya mungkin ingin menambahkan, ada Madura yang seperti ini juga. Jadi, Madura itu bukan cuma yang lantang saja. Ada yang pelan, bahkan sepelan saya, soft spoken,” tuturnya.
Nurul memilih menyampaikan pesan tersebut dengan menjadi dirinya sendiri. Ia tidak ingin membuat karakter yang dibuat-buat hanya untuk mendapatkan perhatian warganet.
Baginya, setiap orang memiliki keunikan masing-masing dan tidak harus memiliki gaya komunikasi yang sama untuk menunjukkan identitas daerahnya.
Dukungan terhadap aktivitasnya juga datang dari keluarga. Orang tua Nurul ikut senang melihat kegiatan yang disukainya mulai membuahkan hasil. Mereka bahkan kerap membagikan dan mengunggah ulang konten yang dibuatnya.
Popularitas di media sosial turut membuka peluang bagi Nurul untuk berkolaborasi dengan sejumlah pihak. Salah satunya bersama Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, yang akrab disapa Mas Rio.
Nurul mengaku mendapat apresiasi dari Mas Rio setelah kontennya menarik perhatian sang bupati. Ia kemudian berinisiatif mengajak Mas Rio membuat konten bersama.
Dalam kolaborasi tersebut, Nurul menyisipkan promosi wisata Situbondo. Ia ingin konten yang dibuat tidak hanya menghibur, tetapi juga membantu memperkenalkan potensi pariwisata daerah kepada masyarakat luas.
Nurul mengaku terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak selama kegiatan tersebut membawa dampak positif.
“Kalau ada yang mau konten bareng saya, selama positif, selama bisa membantu pariwisata dan positif untuk masyarakat, pasti mau berkolaborasi,” ujarnya.
Saat ini, akun Instagram @nurul.hsh yang telah bercentang biru memiliki sekitar 33 ribu pengikut. Sementara akun TikTok @nurul.hsh memiliki sekitar 29,7 ribu pengikut.
Dari konten ulasan kecantikan hingga dikenal sebagai Madura Soft Spoken, Nurul menemukan cara untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memperkenalkan bahasa daerah melalui media sosial.
Perjalanan Nurul sebagai kreator konten tidak lepas dari dukungan suaminya, Ilham Akbar. Pasangan yang menikah pada 2020 itu berbagi peran dalam mengembangkan konten Madura Soft Spoken.
Ilham yang lahir di Jakarta mengaku mendukung istrinya ketika mulai menemukan ciri khas melalui bahasa Madura dan gaya bicara pelan. Menurutnya, konten kecantikan yang dibuat Nurul pada awalnya belum memiliki keunikan yang benar-benar menonjol.
Karena itu, ia ikut membantu agar Nurul bisa terus mengembangkan karakter kontennya secara konsisten.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui keterlibatan langsung dalam proses produksi. Ilham membantu merekam video, menyiapkan perlengkapan, membuat properti, hingga merealisasikan konsep yang dirancang bersama.
“Saya full support. Jadi, istri mengajak desain konten apa, konsepnya apa, saya yang eksekusi. Saya bantu untuk rekamnya dan sebagainya. Untuk perlengkapannya, termasuk properti, semua saya siapkan. Jadi, tinggal on frame, saya yang di belakang layar,” jelas Ilham.
Ia juga mengaku tidak mempermasalahkan bertambahnya pengikut laki-laki di akun media sosial istrinya. Menurutnya, hal tersebut merupakan konsekuensi dari aktivitas Nurul sebagai figur publik.
“Saya sudah percaya sama istri saya. Jadi, mau ada follower cowok banyak atau apa, itu sebagai konsekuensinya sebagai public figure. Saya tidak terlalu pusing memikirkan masalah itu,” katanya.
Bagi Ilham, hal terpenting adalah menjaga semangat istrinya agar tetap konsisten berkarya dan menghasilkan konten yang menarik bagi para pengikutnya.
Di balik sosok Nurul yang tampil di depan kamera, Ilham memilih mengambil peran di belakang layar. Dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Nurul dalam mengembangkan identitas Madura Soft Spoken, yang kini dikenal melalui gaya bicara lembut dan penggunaan bahasa Madura.






