Berita

Mahasiswa UIN KHAS Jember Raih Juara Internasional, Hadirkan Board Game Braille untuk Belajar Al-Qur’an

870
×

Mahasiswa UIN KHAS Jember Raih Juara Internasional, Hadirkan Board Game Braille untuk Belajar Al-Qur’an

Share this article

Jember,locusjatim.com– Kepedulian terhadap akses pendidikan agama bagi penyandang disabilitas netra mengantarkan enam mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember meraih prestasi di tingkat internasional, Rabu (16/09/2026).

Mereka berhasil menyabet Juara 2 kategori Innovative Social Science dalam ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 yang digelar di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia.

Penghargaan tersebut diraih melalui inovasi Braille Hijaiyah Board Game, sebuah alat peraga edukatif yang dirancang untuk membantu anak tunanetra mempelajari huruf Hijaiyah dan pelafalan Al-Qur’an secara lebih mandiri.

Inovasi ini berangkat dari persoalan yang mereka temukan ketika menjalankan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kabupaten Lumajang. Saat itu, tim melihat masih terbatasnya media pembelajaran keagamaan yang secara khusus dirancang untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dengan disabilitas netra.

Temuan tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah permainan edukatif yang menggabungkan huruf Hijaiyah dalam format Braille dengan kode QR. Melalui pemindaian kode tersebut, pengguna dapat mengakses audio pelafalan sehingga proses belajar tidak hanya mengandalkan kemampuan meraba huruf, tetapi juga pendengaran.

Tim inovator ini terdiri atas Umi Kulsum dari angkatan 2023, bersama Chika Nazila Rahman, Mohammad Sofa Yahya Ardiansyah, Fajar Ainun Nafi’, Meutya Belqis Sholeh, dan Naylazahwa Maharani Putri dari angkatan 2025.

Perjalanan membawa gagasan tersebut ke kompetisi internasional tidak lepas dari tantangan. Keenam mahasiswa harus menyelaraskan proses pengembangan produk dengan aktivitas perkuliahan yang tetap berjalan.

Mereka membagi tanggung jawab, mulai dari pematangan konsep, pembuatan desain visual, penyusunan laporan, hingga persiapan presentasi di hadapan juri. Dalam sesi penilaian, tim menjelaskan latar belakang penelitian, cara kerja alat, manfaat bagi pengguna, serta peluang pengembangan inovasi tersebut pada masa mendatang.

Bagi Umi Kulsum, keikutsertaan dalam WICE 2026 pada awalnya menjadi kesempatan untuk menantang diri sendiri sekaligus menguji gagasan yang mereka kembangkan di hadapan peserta dari berbagai negara.

Pengalaman tersebut tidak hanya berujung pada raihan penghargaan, tetapi juga membuka ruang untuk memperoleh masukan yang dapat digunakan dalam menyempurnakan produk.

Melalui Braille Hijaiyah Board Game, mereka berupaya menghadirkan pilihan media belajar yang lebih inklusif, sekaligus mendorong agar anak-anak tunanetra memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mempelajari Al-Qur’an secara mandiri.

“Ikut lomba internasional bukan soal siapa yang paling jenius, tapi siapa yang berani mencoba. Jangan tunggu semuanya sempurna dulu, langsung melangkah saja. Percayalah, setiap langkah kecil bisa jadi awal yang besar,” tukas Umi.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *