BeritaHeadline

Warga Jember Ciptakan Kompor DME Berbahan Arang Limbah, Jadi Alternatif Saat LPG Langka

888
×

Warga Jember Ciptakan Kompor DME Berbahan Arang Limbah, Jadi Alternatif Saat LPG Langka

Sebarkan artikel ini
kompor DME atau kompor dimethyl ether
kompor DME atau kompor dimethyl ether. Foto: Istimewa

Jember, locusjatim.com – Inovasi pemanfaatan arang limbah sebagai bahan bakar alternatif kompor gas dikembangkan seorang warga Dusun Gayasan A, Desa/Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Pengembang inovasi tersebut adalah Ahmad Syaifudin atau yang akrab disapa Asep. Ia mengatakan, teknologi yang dikembangkan memanfaatkan gas hasil proses pembakaran arang di dalam tabung reaktor untuk menghasilkan nyala api yang kemudian dapat digunakan pada kompor.

Asep juga mengatakan, gas yang dihasilkan dalam proses tersebut disebut dimethyl ether (DME) atau dikenal pula sebagai gas sintetis.

“Setahu saya gas yang saya pakai ini namanya DME, dimethyl ether. Ada yang juga menyebutnya sintetik gas,” kata Asep saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Kamis (8/10/2026).

Ia menjelaskan, konsep yang dikembangkan diberi nama kompor DME atau kompor dimethyl ether. Sistem kerjanya memanfaatkan gas yang terbentuk dari proses pembakaran arang di dalam tabung reaktor.

Arang dibakar di dalam reaktor dengan kondisi tertentu sehingga menghasilkan gas. Gas tersebut kemudian disalurkan menuju kompor untuk menghasilkan api.

“Selama arang itu terbakar, tidak ada ruangan untuk terbentuknya api. Itu nanti terkonversi jadi gas. Gasnya kita salurkan ke kompor gas seperti biasa,” jelasnya.

Menurut Asep, teknologi tersebut tidak membutuhkan kompor khusus. Gas hasil proses arang dapat dialirkan ke kompor rumah tangga yang biasa digunakan untuk LPG dengan menggunakan konektor yang disesuaikan.

“Untuk kompor gas biasa juga bisa. Kita buatkan konektornya, langsung masuk ke selang kompor di rumah. Jadi tidak harus ada kompor khusus,” ujarnya.

Bahan bakar yang digunakan dalam inovasi tersebut bukan arang berkualitas tinggi, melainkan arang limbah atau hasil sortiran yang sudah hancur dan memiliki nilai jual lebih rendah.

Asep mengatakan, arang utuh biasanya menjadi produk yang dijual, sedangkan arang yang hancur memiliki harga jauh lebih murah.

“Kalau untuk arang yang sudah hancur-hancur itu biasanya harganya sangat murah. Setahu saya saat ini harga arang sortiran yang hancur-hancur itu sekitar Rp1.000 sampai Rp1.300 per kilogram,” katanya.

Prototipe reaktor yang dibuat saat ini memiliki kapasitas sekitar tiga kilogram arang. Pengujian juga masih dilakukan untuk mengetahui daya tahan dan efisiensi penggunaannya.

Dari pengujian sementara, satu tabung yang diisi penuh telah digunakan selama sekitar satu jam. Hasilnya, jumlah arang yang terbakar dinilai tidak terlalu banyak.

“Untuk durability-nya masih kita belum tahap jauh. Cuma yang sudah kita coba, kita isi penuh, kita uji sampai satu jam kemarin dan kita cek yang terbakar ternyata tidak banyak,” ungkap Mas Asep.

Ia menilai teknologi tersebut masih berpotensi dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif, khususnya ketika terjadi kelangkaan LPG.

“Kalau seandainya dipakai untuk alternatif pengganti LPG, saya rasa masih make sense, masih bisa untuk dipakai khalayak umum,” katanya.

Camat Jenggawah Agus Sucahyo menyambut inovasi yang dikembangkan Asep tersebut. Menurutnya, temuan tersebut masih membutuhkan dukungan dan pendampingan agar dapat dikembangkan secara lebih maksimal.

“Mungkin ini sebuah inovasi yang diciptakan oleh seorang pemuda warga Dusun Gayasan A, Desa/Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember. Ini mungkin perlu sentuhan-sentuhan dari pemerintah, terutama pemerintah kabupaten, dan nanti akan kita koordinasikan dengan pemerintah,” kata Agus.

Menurut Agus, inovasi tersebut berkaitan dengan dua persoalan yang saat ini menjadi perhatian, yakni kebutuhan energi alternatif saat terjadi kelangkaan LPG serta pengelolaan sampah atau limbah.

“Dalam rangka untuk lebih memaksimalkan temuan-temuan atau inovasi ini, bagaimana temuan ini merupakan solusi dalam rangka untuk mengatasi kelangkaan gas LPG dan pengelolaan sampah yang menjadi permasalahan saat ini dihadapi pemerintah daerah di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, Agus mengatakan diperlukan kajian lebih lanjut untuk melihat potensi pengembangan teknologi tersebut. Ia juga menyebut kemungkinan melibatkan badan yang menangani riset dan perencanaan di tingkat daerah.

“Saya kira nanti ada semacam di badan perencanaan riset daerah yang akan mengkaji dan bisa menyampaikan atau mendaftarkan hak ciptanya dari mas Asep ini supaya menjadi pengakuan yang memang layak,” katanya.

Selain aspek teknologi, Agus menekankan pentingnya dukungan berbagai pihak dalam pengelolaan limbah agar dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif.

“Kalau masalah pengelolaan sampah dengan temuan dari Mas Asep ini, harus ada dukungan dari semua stakeholder, terutama masyarakat terkait untuk pemanfaatan sampah yang seharusnya dikelola dengan baik dan benar,” jelasnya.

Namun, Asep menegaskan teknologi kompor DME berbahan arang tersebut masih berada dalam tahap penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D).

Sejumlah bagian masih akan disempurnakan, terutama dari sisi kemudahan pengoperasian agar nantinya dapat digunakan dengan cara yang lebih praktis.

“Ini masih dalam tahap R&D. Alhamdulillah sudah bisa menyala, cuma nanti ke depan mungkin akan kita tingkatkan lagi dari segi simpelnya, cara menyalakannya supaya bisa semudah kompor gas LPG umumnya,” jelasnya.

Untuk harga, prototipe tersebut sementara diperkirakan berada di kisaran Rp2,5 juta. Namun, angka tersebut masih dapat berubah karena proses pengembangan dan perhitungan biaya produksi belum selesai.

“Kalau saya hitung kemarin itu mungkin kita jual di harga Rp2,5 juta. Tapi masih kita hitung ulang nanti, karena ini masih dalam tahap R&D,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *