HeadlineKesehatan

Kasus Penyakit Pernapasan di Jember Melonjak, Pneumonia Naik Jadi 342 Kasus

785
×

Kasus Penyakit Pernapasan di Jember Melonjak, Pneumonia Naik Jadi 342 Kasus

Sebarkan artikel ini
Sejumlah warga saat antre pemeriksaan di Ruang Tunggu RSD dr. Soebandi Jember.
Sejumlah warga saat antre pemeriksaan di Ruang Tunggu RSD dr. Soebandi Jember. Foto: Istimewa

Jember, locusjatim.com – Penyakit pernapasan di Kabupaten Jember menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Selain kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang telah mencapai 2.893 kasus, jumlah penderita pneumonia juga mengalami kenaikan cukup signifikan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember mencatat kasus pneumonia meningkat dari 104 kasus pada minggu ke-34 menjadi 342 kasus pada minggu ke-37.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Jember, Rita Wahyuningsih, mengatakan peningkatan kasus penyakit pernapasan tersebut menjadi perhatian pihaknya.

“Pada akhir September, keterisian tempat tidur mencapai 67 persen di rumah sakit dan 87 persen di puskesmas,” ujar Rita saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Jumat (2/10/2026).

Sementara itu, kasus ISPA juga terus bertambah setiap pekan. Pada minggu ke-34, Dinkes mencatat 1.781 kasus.

Jumlah tersebut meningkat menjadi 2.187 kasus pada minggu ke-35, kemudian 2.482 kasus pada minggu ke-36, hingga mencapai 2.893 kasus pada minggu ke-37.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 566 pasien menjalani perawatan inap.

Selain ISPA dan pneumonia, kasus influenza-like illness (ILI) juga mengalami peningkatan. Dinkes mencatat jumlah kasus ILI bertambah dari 151 kasus pada minggu ke-34 menjadi 224 kasus pada minggu ke-37.

Peningkatan kasus tersebut tersebar di sejumlah wilayah kerja puskesmas. Pada minggu ke-37, tiga wilayah dengan kasus ISPA tertinggi adalah Mangli sebanyak 359 kasus, Jenggawah 234 kasus, dan Sumbersari 184 kasus.

Kasus di Mangli mengalami peningkatan dari 255 kasus pada minggu ke-36 menjadi 359 kasus pada minggu ke-37.

Di Jenggawah, jumlah kasus bertambah dari 165 menjadi 234 kasus. Sedangkan di Sumbersari meningkat dari 169 menjadi 184 kasus.

Menurut Rita, kondisi lingkungan selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap peningkatan penyakit pernapasan.

Suhu yang meningkat, angin, debu, asap pembakaran, hingga polusi udara dapat menjadi faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.

Kelompok balita turut menjadi perhatian karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Pada pasien anak dan balita yang menjalani perawatan, demam dan dehidrasi menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai.

Meski angka kasus terus meningkat, Dinkes Jember menyatakan pola kenaikan masih berlangsung secara bertahap dan belum mengarah pada kejadian luar biasa (KLB).

Pengawasan pun diperkuat melalui surveilans di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Pencatatan dan pelaporan kasus dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Fasilitas kesehatan juga diminta memperkuat triase serta mempercepat penanganan dan rujukan terhadap pasien yang menunjukkan tanda bahaya atau gejala berat.

Rita memastikan hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat ISPA di Jember.

Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang semakin berat atau tidak kunjung membaik.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker saat batuk atau pilek, menghindari asap rokok dan polusi, serta menjaga ventilasi dan sirkulasi udara di rumah maupun tempat kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *