BeritaHeadline

Bupati Fauzi: Idul Fitri Bukan Sekadar Saling Memaafkan, Tapi Menguatkan Persaudaraan

1021
×

Bupati Fauzi: Idul Fitri Bukan Sekadar Saling Memaafkan, Tapi Menguatkan Persaudaraan

Sebarkan artikel ini
Makna idul fitri
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo. Foto: Rifki/locusjatim.com

Sumenep,locusjatim.comBupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo memaknai Idul Fitri sebagai momentum penting untuk memperkuat hubungan persaudaraan di tengah masyarakat. Menurutnya, hari raya tidak hanya diartikan sebagai tradisi saling memaafkan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat kembali hubungan keluarga dan kerabat.

Ia menilai Idul Fitri selalu menghadirkan suasana kebersamaan yang sangat khas di Indonesia. Pada momen tersebut, banyak masyarakat yang pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga besar, sehingga hubungan kekeluargaan yang mungkin sempat renggang dapat kembali terjalin.

Fauzi mengatakan, makna Idul Fitri secara pribadi baginya adalah momen yang mempertemukan kembali saudara dan kerabat dari berbagai tempat. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan yang mungkin jarang terjalin karena kesibukan masing-masing.

“Makna Idul Fitri bagi saya secara pribadi tentu momen di mana kita itu, kalau di Indonesia, seluruh saudara-saudara yang dari mana-mana itu biasanya berkumpul,” ujarnya, Senin (16/03/2026).

Dia menyebut, tradisi Lebaran juga menjadi ruang untuk memperkuat hubungan sosial, baik dengan keluarga dekat maupun dengan kerabat yang jarang ditemui.

Karena itu, Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh, tetapi juga sebagai waktu untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan.

Di Kabupaten Sumenep, lanjut Fauzi, perayaan Idul Fitri memiliki kekhasan tersendiri yang tidak selalu ditemui di daerah lain. Ia menyebutkan bahwa semangat silaturahmi masyarakat Sumenep biasanya berlangsung lebih lama, bahkan hingga beberapa hari setelah hari raya.

Tradisi tersebut terlihat dari kebiasaan masyarakat yang terus saling berkunjung hingga perayaan Lebaran Ketupat. Momen itu menjadi penanda berakhirnya rangkaian silaturahmi yang telah berlangsung sejak hari pertama Idul Fitri.

“Kalau di sini kan, makna Idul Fitri itu bisa satu minggu. Bisa dikatakan kalau sudah lebaran ketupat, itu baru sudah selesai katanya silaturahminya,” kata Fauzi.

Ia menambahkan, selama masyarakat belum merayakan Lebaran Ketupat, banyak yang masih menganggap rangkaian silaturahmi belum benar-benar berakhir. Tradisi tersebut menurutnya menunjukkan kuatnya nilai kekeluargaan yang masih terjaga di tengah masyarakat Sumenep.

Fauzi mengaku pernah merasakan suasana Lebaran di beberapa daerah lain. Namun menurutnya, nuansa Idul Fitri di Sumenep terasa lebih hangat karena masyarakatnya masih sangat menjaga tradisi silaturahmi.

Ia berharap nilai kebersamaan yang tumbuh pada momentum Idul Fitri dapat terus dipertahankan oleh masyarakat. Baginya, semangat persaudaraan dan silaturahmi tersebut merupakan kekuatan sosial yang penting untuk menjaga keharmonisan dan persatuan di tengah kehidupan bermasyarakat.

“Kalau belum sampai makan ketupat itu belum selesai silaturahminya,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *