Berita

Dari Balik Layar Kehidupan, Naghfir Institute Award 2026 Angkat Para Penjaga Nilai Kemanusiaan

668
×

Dari Balik Layar Kehidupan, Naghfir Institute Award 2026 Angkat Para Penjaga Nilai Kemanusiaan

Sebarkan artikel ini
Dari Balik Layar Kehidupan, Naghfir Institute Award 2026 Angkat Para Penjaga Nilai Kemanusiaan
Naghfir Institute Award 2026.

Sumenep, locusjatim.com Di tengah budaya yang kerap memuja popularitas, Naghfir’s Institute justru memilih arah berbeda. Lewat ajang Naghfir Institute Award 2026, lembaga ini menyoroti sosok-sosok yang selama ini bekerja tanpa sorotan, namun menjadi penopang kokohnya nilai sosial di tengah masyarakat.

Penghargaan yang digelar pada momentum Ramadan ini bukan sekadar seremoni. Ia dirancang sebagai ruang refleksi, bahwa makna ibadah tidak hanya berhenti pada ritual personal, melainkan juga menjelma dalam kerja-kerja sosial yang nyata. Ramadan diposisikan sebagai madrasah kemanusiaan tempat empati, kepedulian, dan penghormatan kepada sesama dipupuk bersama.

Direktur Eksekutif Naghfir’s Institute, Naghfir, menegaskan bahwa penghargaan tersebut lahir dari kegelisahan sekaligus optimisme.

“Banyak figur di sekitar kita yang perannya sangat vital, tetapi jarang mendapat pengakuan. Padahal, merekalah penopang nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Penghargaan ini adalah cara kami menghadirkan teladan yang nyata dan dekat dengan kehidupan masyarakat,” tuturnya.

Sebanyak sembilan penerima penghargaan ditetapkan sebagai inspirator kebaikan. Mereka berasal dari latar belakang profesi yang beragam, namun disatukan oleh dedikasi yang tulus.

Pada kategori sosial dan keagamaan, apresiasi diberikan kepada guru ngaji yang sabar membimbing generasi muda, sopir ambulans yang siaga melayani warga tanpa batas waktu, serta penggali kubur yang menunaikan tugas kemanusiaan terakhir dengan penuh keikhlasan. Mereka menunjukkan bahwa pelayanan adalah bentuk ibadah paling konkret.

Di sektor pendidikan dan kebudayaan, guru honorer, guru madrasah, serta seniman budaya lokal mendapat tempat istimewa. Di tengah berbagai keterbatasan, mereka tetap berdiri menjaga nyala ilmu dan identitas budaya, sekaligus membentuk karakter generasi penerus.

Sementara pada kategori pelopor kebaikan keluarga, sosok pemulung, tukang sampah, dan pengemudi ojek online diangkat sebagai teladan ketangguhan. Dari tangan-tangan yang bekerja keras itulah nilai tanggung jawab, ketekunan, dan kepedulian sosial terus hidup, meski sering terabaikan.

Lebih dari sekadar pemberian trofi, ajang ini membawa pesan pendidikan sosial: menghargai orang lain adalah fondasi membangun peradaban yang sehat. Dengan mengangkat figur sederhana, Naghfir’s Institute mengajak publik menggeser perspektif dari sekadar mengagumi popularitas menuju menghormati pengabdian.

Ramadan dipilih bukan tanpa alasan. Bulan suci menjadi pengingat bahwa kesalehan tidak cukup dimaknai secara vertikal, tetapi juga harus terwujud dalam relasi horizontal antar manusia.

Menutup rangkaian kegiatan, Naghfir kembali menegaskan pesan moral yang ingin ditanamkan.

“Penghargaan ini adalah ajakan moral untuk kembali membangun empati, gotong royong, dan budaya saling menghargai. Karena masyarakat yang kuat bukan hanya ditopang oleh tokoh besar, tetapi oleh orang-orang biasa yang setia berbuat baik,” tutup Naghfir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *