Sumenep, locusjatim.com – Enam hari memasuki Ramadan, denyut pasar tradisional di Kabupaten Sumenep mulai terasa berbeda. Sejumlah komoditas pangan, khususnya daging ayam, daging sapi, dan cabai, terpantau mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Meski begitu, Pemerintah Kabupaten Sumenep memastikan kondisi tersebut masih dalam batas wajar dan terus dipantau secara intensif agar tidak berkembang menjadi gejolak harga yang lebih besar.
Kepala Diskop UKM dan Perindag Sumenep, Moh. Ramli, menyebut bahwa fluktuasi harga menjelang hari besar keagamaan merupakan pola yang kerap terjadi setiap tahun.
“Dinamika harga menjelang Ramadan itu siklus tahunan. Terutama komoditas seperti daging dan cabai yang permintaannya meningkat signifikan,” ujar Ramli.
Menurutnya, penilaian stabilitas harga tidak hanya dilihat dari kenaikan nominal di pasar. Pemerintah menggunakan dua parameter utama, yakni ketersediaan stok dan keterjangkauan daya beli masyarakat.
“Indikator stabilitas itu ada dua: stok tersedia dan daya beli masyarakat masih terjangkau. Selama dua hal itu terpenuhi, maka kondisi masih bisa dikatakan stabil,” ujarnya.
Ramli menjelaskan, lonjakan harga bisa dipicu berbagai faktor, mulai dari produksi di tingkat petani dan peternak, distribusi antarwilayah, hingga kondisi cuaca yang memengaruhi hasil panen. Terlebih, tidak semua komoditas berasal dari produksi lokal.
“Tidak semua komoditas itu produk lokal. Ada yang didatangkan dari luar daerah. Kalau distribusi terganggu atau produksi menurun sementara permintaan naik, maka harga akan ikut terdorong,” jelasnya.
Di sisi lain, kenaikan harga mulai dirasakan langsung oleh warga. Kusmiyati (45), salah satu ibu rumah tangga di Sumenep, mengaku harus menyesuaikan pengeluaran dapur dalam beberapa hari terakhir.
“Biasanya beli ayam masih terjangkau, sekarang naik. Cabai juga sempat tinggi. Kami khawatir kalau mendekati Lebaran makin mahal,” keluh Kusmiyati, Rabu (25/2).
Untuk mencegah spekulasi dan potensi penimbunan, Pemkab Sumenep melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) bersama Satgas Pangan melakukan pengawasan rutin ke pasar dan gudang distributor. Langkah ini dilakukan guna memastikan pasokan tetap aman dan tidak ada praktik yang merugikan masyarakat.
“Kami konsisten melakukan pengawasan. Jangan sampai ada aksi penimbunan atau permainan stok yang justru memicu kelangkaan dan lonjakan harga,” tegas Ramli.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Panic buying, menurutnya, justru dapat mempercepat kenaikan harga di tingkat pedagang.
“Kami harap masyarakat tetap tenang dan berbelanja secara wajar. Pemerintah hadir dan terus mengawal agar stabilitas harga pangan selama Ramadan tetap terjaga,” pungkasnya.






