Banyuwangi, locusjatim.com – Upaya Banyuwangi memperkuat identitas sebagai daerah penghasil kopi berkualitas tinggi kian nyata. Dari lereng Gunung Raung, Kecamatan Kalibaru, tumbuh harapan baru lewat pengembangan kopi Arabika langka jenis Yellow Caturra dan Yellow Bourbon yang mulai dilirik pasar kopi kelas atas.
Tak sekadar wacana, kopi premium tersebut telah dibudidayakan di lahan seluas 7 hektare dengan produktivitas rata-rata mencapai 1 ton per hektare. Dari areal tersebut, total produksi green bean menembus sekitar 7 ton per tahun—angka yang cukup menjanjikan untuk varietas kopi yang tergolong langka di Indonesia.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi, Danang Hartanto, menegaskan bahwa kehadiran Yellow Caturra dan Yellow Bourbon menjadi nilai lebih bagi sektor perkebunan daerah. Menurutnya, tidak semua wilayah mampu mengembangkan varietas ini dengan kualitas optimal.
“Ini salah satu jenis kopi premium yang dimiliki Banyuwangi. Tidak banyak daerah di Indonesia yang bisa mengembangkan Yellow Caturra dan Yellow Bourbon dengan kualitas baik. Tapi, Banyuwangi punya keunggulan itu,” kata Danang, Kamis (29/1/2026).
Keunggulan tersebut, lanjut Danang, tak lepas dari karakter alam lereng Gunung Raung. Kombinasi tanah vulkanik, ketinggian ideal, serta suhu yang sejuk membentuk profil rasa kopi yang khas dan bernilai tinggi.
“Topografi di Kalibaru sangat ideal. Tanahnya subur, iklimnya cocok, sehingga menghasilkan kopi dengan cita rasa yang khas dan berpotensi besar untuk pasar internasional,” jelasnya.
Secara historis, Yellow Caturra dan Yellow Bourbon dikenal berasal dari Brasil dan Amerika Latin, sebelum menyebar ke berbagai negara penghasil kopi. Di Indonesia, varietas ini masuk sejak era kolonial Belanda dan kini hanya ditemukan di beberapa wilayah dataran tinggi tertentu.
Ciri khasnya terletak pada warna ceri kopi yang menguning saat matang, dengan karakter rasa manis dan tingkat keasaman yang seimbang—kombinasi yang digemari penikmat kopi spesialti.
Lebih jauh, Danang menekankan bahwa pengembangan kopi langka ini bukan hanya soal gengsi varietas, tetapi bagian dari strategi Pemkab Banyuwangi untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui produk bernilai tambah tinggi.
“Kami tidak hanya mengejar kuantitas, tapi kualitas. Dengan kopi premium seperti ini, harga jualnya jauh lebih baik dan berdampak langsung pada pendapatan petani,” ujarnya.
Untuk memastikan daya saing, Pemkab Banyuwangi terus memperkuat pendampingan mulai dari budidaya, pengolahan pascapanen, hingga pemasaran. Hilirisasi menjadi fokus agar kopi Arabika dari lereng Gunung Raung tidak hanya dikenal sebagai produk lokal, tetapi juga mampu berbicara di pasar global.
“Potensi ini akan terus kami kembangkan dengan pendampingan dan penguatan hilirisasi. Harapannya, kopi Arabika Banyuwangi dari lereng Gunung Raung bisa semakin dikenal dunia,” tutup Danang. (*)












