Berita

Bank Sperma Jadi Andalan Peternak Banyuwangi

958
×

Bank Sperma Jadi Andalan Peternak Banyuwangi

Sebarkan artikel ini
Bank sperma banyuwangj
Bank sperma banyuwangi. Istimewa

Banyuwangi, locusjatim.com Keberhasilan peternak Banyuwangi meningkatkan jumlah dan kualitas ternak sapi tidak lepas dari sistem pelayanan inseminasi buatan yang terorganisir rapi. Di balik layanan tersebut, terdapat bank sperma ternak yang menjadi titik awal distribusi bibit unggul ke kandang-kandang warga di seluruh kecamatan.

Fasilitas penyimpanan sperma ternak ini berada di kantor Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi. Ribuan dosis sperma sapi disimpan dalam kontainer khusus dengan teknologi pembekuan ekstrem, sebelum disalurkan kepada petugas inseminator di lapangan.

Plt Kepala Dispertan Banyuwangi, Ilham Juanda, menyebut setiap kontainer mampu menampung ratusan dosis sperma yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

“Penyimpanan dilakukan di dalam container khusus yang berisi nitrogen cair. Suhunya minus 196 derajat. Sehingga kualitas sperma bisa bertahan hingga bertahun-tahun asalkan penanganannya benar,” kata Ilham, Selasa (13/1/2026).

Bibit ternak tersebut dipasok dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) Singosari dan Lembang, dua pusat produksi sperma ternak nasional. Kepala Bidang Budidaya dan Usaha Peternakan Dispertan Banyuwangi, Abdul Rozak, menjelaskan bahwa sperma dikirim ke daerah dalam kondisi beku dan siap digunakan.

Jenis ternak yang tersedia pun cukup lengkap, mulai dari sapi Limousin, Simental, Belgian Blue, Brahman, Peranakan Ongole (PO), Friesian Holstein (FH), Angus, sapi Bali, hingga kerbau.

“Selain sapi juga ada kerbau. Ribuan sperma ternak tersebut tiba 2 minggu sekali sebelum kami distribusikan ke inseminator yang tersebar di seluruh kecamatan di Banyuwangi,” terangnya.

Di tingkat peternak, sapi Simental dan Limousin menjadi pilihan utama karena dinilai memiliki pertumbuhan cepat dan nilai jual tinggi. Sementara itu, sapi Brahman menempati posisi ketiga sebagai jenis yang cukup diminati.

Program inseminasi buatan ini dijalankan oleh 52 petugas inseminator yang aktif mendampingi peternak. Dalam praktiknya, satu ekor sapi rata-rata membutuhkan sekitar 1,5 dosis sperma untuk mencapai kebuntingan, dengan satu dosis berisi 0,25 mililiter dan hanya digunakan sekali.

“Program inseminasi ini terbukti berhasil. Tidak hanya untuk menjaga populasi ternak, tetapi juga untuk menjamin ketersediaan daging di Banyuwangi serta meningkatkan produktivitas peternak,” kata Rozak.

Melalui skema pelayanan berkelanjutan tersebut, Banyuwangi kini mampu mencatat sekitar 2.300 kelahiran ternak setiap bulan, menjadikan inseminasi buatan sebagai tulang punggung pengembangan peternakan rakyat di daerah ujung timur Pulau Jawa itu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *