Jakarta, locusjatim.com — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Jawa Timur menegaskan posisi strategisnya sebagai kekuatan pengimbang demokrasi nasional dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI Perjuangan 2026. Forum nasional yang digelar di Jakarta, Minggu (11/1/2026), dimanfaatkan PDIP Jatim untuk membawa gagasan politik, ekonomi, hingga kebudayaan sebagai fondasi peran partai ke depan.
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur MH Said Abdullah menyebut Rakernas awal 2026 menjadi momentum penting bagi konsolidasi arah perjuangan partai. Jawa Timur, kata dia, menawarkan tiga fokus utama yang disiapkan untuk memperkuat posisi PDI Perjuangan hingga 2029.
“Dalam Rakernas awal 2026 ini, kami dari Jawa Timur membawa tiga isu utama, yakni sikap politik, program, dan kebudayaan,” ujar Said di sela-sela Rakernas.
Pada aspek politik, PDIP Jatim menegaskan komitmennya untuk tetap berada di jalur pengawasan kekuasaan. Menurut Said, peran sebagai partai penyeimbang justru dibutuhkan untuk menjaga kualitas demokrasi dan tata kelola pemerintahan.
“Jawa Timur ingin agar sikap politik kita sebagai partai penyeimbang tetap dikawal sampai 2029, sehingga PDI Perjuangan terus berperan sebagai kekuatan kontrol yang konstruktif,” katanya.
Said juga menyinggung posisi PDI Perjuangan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Meski tidak berada di lingkar kekuasaan, PDIP tetap menyatakan dukungan terhadap stabilitas pemerintahan hingga akhir masa jabatan.
“Kami tetap mendukung kepemimpinan Presiden Prabowo sampai 2029. Namun dukungan itu diberikan dari luar pemerintahan,” tegas Ketua Badan Anggaran DPR RI tersebut.
Di bidang ekonomi dan legislatif, PDIP Jatim mendorong penguatan fungsi fiskal DPR RI, khususnya dalam menjaga keseimbangan anggaran antara pusat dan daerah. Said menilai distribusi fiskal yang adil akan mempercepat pergerakan sektor riil di daerah.
“Kami ingin anggota DPR RI dari PDI Perjuangan bekerja maksimal, terutama dalam mengembalikan fungsi fiskal sesuai porsi keuangan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, supaya sektor riil di daerah bisa bergerak lebih kuat,” jelasnya.
Ia optimistis Jawa Timur mampu berperan sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional. Dengan pertumbuhan yang relatif tinggi, provinsi ini dinilai punya potensi besar untuk menopang target pertumbuhan nasional.
“Kalau target nasional 5,7 hingga 6 persen, Jawa Timur paling memungkinkan untuk ikut menopang capaian itu,” ujarnya.
Tak hanya politik dan ekonomi, PDIP Jatim juga membawa agenda kebudayaan ke panggung Rakernas. Said menekankan bahwa Jawa Timur memiliki warisan sejarah dan tradisi yang kaya, mulai dari peninggalan kerajaan Nusantara hingga budaya lokal yang masih lestari.
“Banyak nilai dan jejak sejarah yang layak diangkat sebagai kekuatan kebudayaan, bukan hanya bagi Jawa Timur, tetapi juga bagi Indonesia,” kata politisi asal Sumenep, Madura itu.
Menurutnya, pengarusutamaan kebudayaan Jawa Timur dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas nasional ke depan.
“Alangkah baiknya jika ini menjadi koridor kebudayaan Jawa Timur dan kita dorong bersama agar kebudayaan Jawa Timur bisa tampil sebagai ikon nasional,” pungkas Said.(*)












