Berita

258 Sekolah di Jember Dapat Revitalisasi, Akademisi Soroti Pentingnya Pemetaan Kebutuhan

519
×

258 Sekolah di Jember Dapat Revitalisasi, Akademisi Soroti Pentingnya Pemetaan Kebutuhan

Sebarkan artikel ini
Salah satu sekolah di Jember yang dapat bantuan revitalisasi.
Salah satu sekolah di Jember yang dapat bantuan revitalisasi. Foto: Istimewa

Jember, locusjatim.com – Sebanyak 258 lembaga pendidikan di Kabupaten Jember mendapat bantuan revitalisasi sekolah dengan total anggaran mencapai Rp187,38 miliar.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, bantuan tersebut diberikan kepada 121 sekolah negeri dan 137 sekolah swasta yang telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Di tengah besarnya anggaran yang digelontorkan, akademisi mengingatkan pentingnya memastikan program revitalisasi benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah.

Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember, Aris Singgih, mengatakan kondisi sekolah di wilayah perkotaan dan perdesaan tidak selalu memiliki persoalan yang sama.

Karena itu, menurutnya, perencanaan revitalisasi perlu didasarkan pada data kondisi lapangan, bukan hanya jumlah sekolah yang membutuhkan bantuan.

“Pemerintah perlu memiliki data yang akurat mengenai kondisi bangunan, ketersediaan air bersih, toilet, dan ruang kelas. Data tersebut penting agar perbaikan benar-benar menyasar kebutuhan yang paling mendesak,” ujar Aris saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, pemerataan menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan sarana pendidikan. Setiap sekolah dapat memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda sehingga prioritas pembenahan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Selain kondisi bangunan, fasilitas dasar juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Ruang kelas yang mengalami kebocoran, sirkulasi udara yang buruk, suhu ruangan, hingga tingkat kebisingan dapat berpengaruh terhadap kenyamanan siswa saat mengikuti pembelajaran.

Namun, Aris mengingatkan revitalisasi fisik tidak dapat berdiri sendiri.

“Tempat belajar yang nyaman tidak hanya dimaknai sebagai gedung yang megah atau fasilitas yang lengkap. Kenyamanan juga mencakup aspek psikologis, seperti adanya rasa aman, hubungan yang positif antara guru dan murid, serta suasana belajar yang menghargai setiap individu,” katanya.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember, Januariya Laili, mengatakan sarana pendidikan merupakan salah satu fondasi untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung siswa.

Namun, kondisi gedung tidak secara otomatis menentukan prestasi peserta didik.

“Lingkungan yang nyaman bukan hanya sekadar kondisi fisik, jadi jangan berhenti hanya di gedung. Kita juga perlu konsen pada terciptanya rasa aman anak, relasi yang hangat dengan guru, dan keterlibatan siswa,” ujarnya.

Menurutnya, anak yang merasa aman dan diterima cenderung lebih nyaman berada di kelas, tidak terlalu cemas, serta lebih berani bertanya dan mencoba.

Karena itu, peningkatan kualitas fasilitas perlu dibarengi dengan penguatan kualitas guru dan suasana pembelajaran.

Januariya mengatakan guru perlu mampu membangun relasi yang sehat dengan siswa, mengelola kelas secara empatik, serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.

Aris juga menilai kompetensi guru harus menjadi perhatian dalam pembangunan pendidikan.

“Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun suasana belajar yang menyenangkan, memahami karakter peserta didik, serta mampu menggunakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Januariya menilai evaluasi revitalisasi sekolah juga perlu melihat perubahan yang terjadi pada peserta didik.

Pemerintah tidak cukup hanya menghitung jumlah gedung yang telah dibangun atau diperbaiki. Tingkat kehadiran, keterlibatan siswa dalam pembelajaran, dan capaian belajar dapat menjadi indikator untuk melihat manfaat program.

“Prestasi itu hasil dari banyak faktor yang saling menguatkan, dan tempat belajar hanya salah satunya,” katanya.

Selain sekolah dan guru, dukungan keluarga juga memiliki peran dalam proses pendidikan.

Komunikasi antara sekolah dan orang tua, menurut Januariya, perlu dilakukan secara rutin agar anak mendapatkan dukungan yang konsisten.

“Ketika sekolah dan orang tua sejalan, anak merasakan lingkungan yang konsisten, dan itu memperkuat rasa aman serta motivasi belajarnya,” ujarnya.

Dengan total anggaran Rp187,38 miliar untuk 258 lembaga pendidikan, revitalisasi sekolah di Jember menjadi bagian dari investasi terhadap sarana pendidikan.

Namun, akademisi menilai efektivitas program akan sangat bergantung pada ketepatan dalam menentukan kebutuhan, pemerataan bantuan, serta penguatan kualitas pembelajaran di masing-masing sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *