Berita

Jawab Arahan Menag, UIN KHAS Jember Siap Cetak Cendekiawan Berdaya Guna

713
×

Jawab Arahan Menag, UIN KHAS Jember Siap Cetak Cendekiawan Berdaya Guna

Sebarkan artikel ini
Jawab Arahan Menag, UIN KHAS Jember Siap Cetak Cendekiawan Berdaya Guna
Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni. Foto: Istimewa

Jember,locusjatim.com UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember menegaskan komitmennya dalam menjawab arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga melahirkan cendekiawan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Menag dalam kegiatan ASN Quality Update di UIN Datokarama Palu, Rabu (01/04/2026). Dalam arahannya, ia menekankan bahwa peran PTKIN harus melampaui fungsi pendidikan formal dan mampu menjadi motor perubahan sosial.

“Ilmu tidak berhenti pada teori. Ia harus menjadi pengalaman yang membentuk sikap dan memberi dampak,” ujar Nasaruddin.

Bagi UIN KHAS Jember, arahan tersebut sejalan dengan visi kampus yang mengintegrasikan keilmuan, nilai keislaman, dan pengabdian kepada masyarakat. Kampus berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan kemampuan memberi solusi.

Menag juga menegaskan bahwa PTKIN tidak cukup hanya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, perguruan tinggi Islam harus menjalankan peran ganda sebagai institusi akademik sekaligus agen dakwah dan pemberdayaan umat.

“Perguruan tinggi tidak boleh hanya melahirkan ilmuwan, tetapi juga harus mampu mencetak cendekiawan yang hadir di tengah masyarakat,” tegasnya.

Ia turut menguraikan perbedaan antara ilmuwan, intelektual, dan cendekiawan. Ilmuwan berfokus pada penguasaan disiplin ilmu, intelektual mengamalkan ilmu tersebut, sementara cendekiawan adalah sosok yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui ilmu yang dimilikinya.

Untuk memperjelas gagasan itu, Menag mengibaratkan proses memahami ilmu seperti meracik kopi, gula, dan air panas. Secara teori, perpaduan itu menghasilkan rasa manis. Namun, pemahaman sejati hanya didapat ketika seseorang benar-benar merasakannya. Analogi ini menegaskan bahwa pengalaman dan kebermanfaatan menjadi inti dari keilmuan yang utuh.

“Pengetahuan yang sejati adalah yang dirasakan, dihidupi, dan memberi manfaat bagi orang lain,” imbuhnya.

Menindaklanjuti arah kebijakan tersebut, UIN KHAS Jember terus memperkuat implementasi tridarma perguruan tinggi secara lebih integratif. Program pengabdian masyarakat diperluas, riset diarahkan pada kebutuhan riil di tingkat lokal, serta pembinaan karakter mahasiswa diperkuat sebagai fondasi utama.

Sementara itu, Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Hepni, menegaskan bahwa kampus tidak ingin berhenti pada capaian akademik semata. Ia menambahkan, integrasi antara ilmu dan nilai menjadi kunci dalam membentuk cendekiawan yang relevan dengan tantangan zaman.

Selain itu, UIN KHAS Jember juga menjadikan tradisi keilmuan klasik seperti Baitul Hikmah sebagai inspirasi dalam membangun ekosistem akademik. Pada masa kejayaannya, institusi tersebut dikenal sebagai pusat lahirnya pemikir yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.

“Integrasi antara ilmu, nilai keislaman, dan pengabdian menjadi fondasi penting dalam membangun generasi yang adaptif dan solutif,” tandasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *